Picu Stress Mahasiswa, Skripsi Jadi Salah Satu Faktor

Picu Stress Mahasiswa, Skripsi Jadi Salah Satu Faktor
Ilustrasi picu stress mahasiswa, skripsi jadi salah satu faktor. Journo Liberta/Ghea Jean Hadi Savana.

Journoliberta.com – Kasus seorang mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang ditemukan meninggal di kamar kos usai diduga lembur mengerjakan skripsi kembali memunculkan perhatian terhadap tekanan akademik yang dialami mahasiswa tingkat akhir. Berbagai tuntutan selama penyusunan skripsi dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan mental apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan stres yang baik.

Mahasiswa semester akhir Universitas Muhammadiyah Jakarta, Aliya (bukan nama sebenarnya), mengaku tekanan selama menyusun skripsi muncul karena harus menyelesaikan berbagai tuntutan akademik secara bersamaan. Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi emosionalnya, tetapi juga kesehatan fisik karena ia mengalami asam lambung naik, iritasi pada mata kiri akibat terlalu lama menatap layar laptop, bahkan tetap menerima jasa pengerjaan tugas demi memenuhi kebutuhan hidup meski merasa malu karena belum lulus.

“Saya harus mengolah data, memenuhi revisi, tes komprehensif, sampai publikasi jurnal. Tekanan itu sering membuat saya stres dan kondisi kesehatan ikut menurun. Di sisi lain, saya juga tetap menerima joki tugas untuk bertahan hidup, meski terkadang merasa malu karena teman-teman saya sudah banyak yang lulus,” ujar Aliya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Selasa (7/7).

Aliya menilai mahasiswa tingkat akhir membutuhkan dukungan akademik sekaligus dukungan psikologis agar proses penyusunan skripsi dapat dijalani dengan lebih baik. Ia berharap kampus dapat menyediakan pendampingan yang lebih intensif serta membangun komunikasi yang lebih terbuka antara dosen dan mahasiswa.

“Saya berharap kampus dapat lebih aktif memberikan pendampingan, baik melalui dosen pembimbing maupun layanan konseling yang mudah diakses, sehingga mahasiswa tidak merasa harus menghadapi semua tekanan sendirian. Selain itu, aku juga berpendapat bahwa sistem penyelesaian studi perlu dievaluasi karena skripsi bukan satu-satunya cara untuk mengukur kemampuan mahasiswa. Akan lebih baik jika tersedia pilihan tugas akhir lain yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kompetensi masing-masing mahasiswa,”  tutupnya.

Menanggapi hal tersebut, seorang Psikolog, Debby Nursita Dewi, penyusunan skripsi menjadi tahap yang menantang karena mahasiswa harus melewati berbagai proses sebelum dapat menyelesaikan studinya. Selain itu, dalam menyusun penelitian mahasiswa juga dituntut memahami seluruh hasil untuk dipertanggungjawabkan saat sidang. 

“Mahasiswa harus mengelaborasi suatu permasalahan, mencari referensi, menentukan metode penelitian, mencari responden, hingga memahami hasil penelitiannya sendiri. Seluruh proses tersebut membutuhkan waktu, tenaga, dan kemampuan berpikir yang tidak sedikit,” ujar Debby saat diwawancarai melalui Google Meeting, Jumat (10/7).

Tidak hanya itu, ia mengatakan proses bimbingan dengan dosen juga kerap menjadi tantangan bagi mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa kesulitan mengatur jadwal bimbingan, revisi yang berulang, serta tekanan dari keluarga dan lingkungan untuk segera lulus membuat beban akademik semakin besar, terlebih ketika mahasiswa mulai membandingkan dirinya dengan teman yang lebih dahulu menyelesaikan skripsi.

“Kondisi ini sering membuat mahasiswa merasa proses skripsinya tidak kunjung selesai. Saat tenggat kelulusan semakin dekat, tekanan itu biasanya ikut meningkat. Mahasiswa juga sering mendapat pertanyaan mengenai kapan akan lulus, sementara mereka membandingkan dirinya dengan teman yang sudah lebih dahulu menyelesaikan skripsi sehingga tekanan yang dirasakan menjadi semakin besar,” jelasnya.

Debby mengingatkan bahwa tekanan akademik tidak boleh dianggap sebagai persoalan yang harus dipikul sendiri oleh mahasiswa. Menurutnya, mengenali tanda-tanda stres sejak dini dan mencari bantuan merupakan langkah penting agar kondisi psikologis tidak semakin memburuk.

“Kalau stres sudah berlangsung cukup lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera mencari bantuan profesional agar kondisi psikologis dapat ditangani dengan lebih baik. Mahasiswa tidak harus menghadapi semua tekanan sendirian. Ketika merasa kesulitan, jangan ragu mencari bantuan agar kondisi psikologis tetap terjaga,” tuturnya.

☕ Traktir Kopi

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.

❤ Beri Dukungan

Pos terkait