Lewat Teater dan Talkshow, Ruang Eksplorasi Kupas Beban Emosi Generasi Muda

Lewat Teater dan Talkshow, Ruang Eksplorasi Kupas Beban Emosi Generasi Muda
Foto lewat teater dan talkshow, ruang eksplorasi kupas beban emosi generasi muda. Journo Liberta/Andini Septiani.

Journoliberta.com – Tekanan akademik, tuntutan finansial, lingkungan sosial, hingga paparan media sosial menjadi sumber beban emosional yang banyak dialami generasi muda, tetapi kerap tidak disadari maupun diungkapkan. Berangkat dari persoalan tersebut, Ruang Eksplorasi menghadirkan Merayakan Muda Kita 4.0: The Invisible Weight melalui drama teater, talkshow bersama psikolog, dan sesi refleksi sebagai ruang bagi peserta untuk mengenali, memahami, serta merefleksikan beban emosional yang selama ini tersembunyi.

Head of External Partnership Ruang Eksplorasi, Keysa Qolbi Arifina mengatakan, tema The Invisible Weight dipilih karena persoalan kesehatan mental masih sering dipandang sebagai hal yang sepele, padahal memiliki dampak terhadap kehidupan sehari-hari. Melalui rangkaian acara tersebut, Ruang Eksplorasi ingin mengajak generasi muda melihat bahwa beban emosional merupakan persoalan nyata yang perlu disadari sejak dini.

“Kami ingin memberitahu bahwa kesehatan mental itu harus dilihat. Banyak yang menganggap persoalan mental sepele. Tetapi nyatanya itu serius, hal yang harus kita apresiasi dari diri kita sendiri,” ujar Keysa saat diwawancarai secara langsung di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jumat (24/7).

Sejalan dengan itu, Psikolog Maria Chrisnatalia menjelaskan, beban emosional kerap tidak terlihat karena banyak orang berusaha tampak baik-baik saja di tengah berbagai tekanan. Sementara itu, stigma yang membuat seseorang takut dianggap lemah atau membebani orang lain mendorong mereka memilih memendam perasaan hingga berdampak pada kondisi psikologisnya.

“Yang orang lihat itu cuma sekadar senyumnya, kesuksesan dan prestasinya. Tapi mereka pernah nggak melihat bagaimana prosesnya kita, sakitnya kita? Beban emosi itulah yang sebenarnya tidak terlihat. Kita takut dianggap lemah, berlebihan, tidak ingin membebani orang lain, padahal tidak apa-apa kalau sedang tidak baik-baik saja,” jelas Maria dalam talkshow Merayakan Muda Kita 4.0: The Invisible Weight, Jumat (24/7).

Maria turut menjelaskan mengenai beban emosional yang dipendam dalam waktu lama dapat terlihat melalui perubahan perilaku. Oleh karena itu, ia menilai setiap orang membutuhkan ruang aman agar dapat mengungkapkan emosinya tanpa takut dihakimi.

“Kadang ia bisa menarik diri dari lingkungannya, mudah lelah meski tidak banyak aktivitas fisik, susah konsentrasi, susah buat keputusan, dan merasa kosong. Kadang orang yang punya masalah itu tidak butuh solusi, mereka cukup ingin didengarkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Psikolog Hanifa Faizah Ramadhani, menjelaskan tekanan emosional generasi muda juga semakin dipengaruhi oleh media sosial yang mendorong seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Menurutnya, kebiasaan tersebut memunculkan jarak antara kondisi diri saat ini dengan gambaran kehidupan ideal yang dibentuk melalui konten di media sosial sehingga memicu kecemasan dan rasa tertinggal.

“Media sosial hanya menampilkan puncak kesuksesan dan menyembunyikan proses atau kegagalan, kita membandingkan behind the scenes hidup kita dengan highlight kehidupan orang lain. Pertanyaannya, itu adil tidak untuk diri kita sendiri?” ujar Hanifa dalam talkshow Merayakan Muda Kita 4.0: The Invisible Weight, Jumat (24/7).

Hanifa mengatakan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial merupakan hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar generasi muda tidak larut dalam perasaan tertinggal dan mulai menyadari pola pikirnya sebelum mengambil langkah untuk mengelola tekanan emosional.

“Kalau sudah overwhelmed sama tugas atau tuntutan, stop, napas dulu, baru pikir. Karena diri kita akan bisa berpikir lebih jernih kalau dalam keadaan tenang,” jelasnya.

Peserta Merayakan Muda Kita 4.0, Muhamad Alpha Putra Rangkuti, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai beban emosional setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, tema The Invisible Weight mengingatkan bahwa banyak persoalan yang tidak terlihat oleh orang lain, tetapi tetap memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis seseorang.

“Saya jadi sadar ada beban-beban yang mungkin tidak pernah terlihat, tetapi berdampak bagi diri kita sendiri. Setelah mengikuti talkshow, sharing session, dan sesi tanya jawab, saya jadi lebih aware bahwa kesehatan mental itu penting,” ujarnya saat diwawancarai secara langsung di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jumat (24/7).

Senada dengan pengalaman peserta, Keysa mengatakan Ruang Eksplorasi merancang rangkaian kegiatan melalui drama teater, diskusi bersama psikolog, hingga sesi refleksi agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga mampu menghubungkan materi yang disampaikan dengan pengalaman pribadi mereka. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap kesehatan mental.

“Harapannya teman-teman bisa lebih peka, lebih sadar, lebih aware terhadap kesehatan mental mereka sendiri. Mereka juga makin mengetahui bahwa kesehatan mental itu sangat penting untuk kehidupan mereka,” ujarnya.

(Artikel ini merupakan bagian dari media partner bersama Ruang Eksplorasi).

☕ Traktir Kopi

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.

❤ Beri Dukungan

Pos terkait