CBX 2025: Menjaga Independensi Media di Tengah Arus Digital

Journaliberta.com – DNK TV Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta menggelar Campus Broadcasting Expo (CBX) 2025 di Auditorium Harun Nasution, Selasa (30/9). Acara yang mengangkat tema “Media Under Control: Siapa yang Mengendalikan dan Siapa yang Dikendalikan” ini membahas literasi digital, algoritma, dan tantangan Artificial Intelligence (AI) bersama akademisi, praktisi, hingga otoritas negara.

Dekan FDIKOM UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto menyampaikan bahwa media arus utama, termasuk media digital perlu memiliki kontrol diri sekaligus menjaga independensi agar tetap berfungsi sebagai pilar demokrasi. Ia menyebut keberadaan media sangat penting dalam memberi ruang bagi publik serta menjadi bagian dari infrastruktur politik yang sehat.

“Media itu harus bertumbuh dengan kemandirian dan imparsialitas, agar benar-benar menjadi the voice of the voiceless,” ujar Gun Gun saat memberikan keynote speech dalam acara Creatalk 2025 di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, Selasa (30/9).

Lebih lanjut, Perwakilan Direktorat Jenderal (Ditjen) Komunikasi Publik dan Media Kementerian Kominfo, Farida Dewi Maharani menyampaikan bahwa pemerintah telah mengadopsi tiga pendekatan utama untuk menghadapi disinformasi. Ia menyebut pendekatan tersebut meliputi regulasi yang adaptif, literasi digital, dan kemitraan.

“Tujuan regulasi ini bukan untuk membatasi pemanfaatan AI, melainkan memastikan teknologi yang berkembang tetap mempertimbangkan prinsip etis, keselamatan, dan berorientasi pada dampak positif,” ucap Farida saat menyampaikan keynote speech di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, Selasa (30/9).

Di sisi lain, jurnalis sekaligus news anchor TVOne, Andromeda Mercury menyampaikan bahwa kehadiran kecerdasan buatan dan percepatan dunia digital tidak bisa lagi dihindari. Ia menilai media tidak boleh terjebak pada pola kerja lama yang hanya berfokus pada rapat redaksi dan menayangkan berita di televisi, karena pola konsumsi audiens sudah berubah drastis dengan hadirnya platform digital.

“Tidak bisa lagi hanya mengandalkan rutinitas rapat redaksi dan tayang di TV, sekarang kita juga harus melek tren viral di Instagram, TikTok, atau bahkan grup WhatsApp keluarga,” ungkap Andromeda dalam acara CBX Creatalk 2025 di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, Selasa (30/9).

Andromeda menambahkan bahwa tantangan terbesar media hari ini bukan sekadar soal kecepatan memberitakan, melainkan menjaga kualitas di tengah banjir informasi digital. Ia mengingatkan masyarakat saat ini sangat mudah terpapar informasi palsu, baik melalui unggahan media sosial, video singkat, maupun konten yang diproduksi dengan teknologi manipulatif seperti deepfake.

“Hati-hati, jangan menelan mentah-mentah informasi viral, karena bisa jadi hoaks yang diproduksi dengan teknologi canggih seperti deepfake. Karena itu, jurnalis dituntut lebih kritis dalam memverifikasi fakta sebelum menyajikannya ke publik,” tambahnya.

Kreator digital sekaligus Creative Lead di Kok Bisa, Rico Jonathan melihat kehadiran AI dalam industri kreatif bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang sudah mengubah pola produksi konten. Ia menggambarkan bagaimana kini satu produser bisa mengerjakan pekerjaan yang dulu membutuhkan tim besar berkat bantuan teknologi otomatisasi.

“Bayangin tadinya di belakang sebuah video ada produser, editor, animator, sampai host, sekarang cukup satu orang saja dengan bantuan AI,” tutur Rico dalam acara CBX Creatalk 2025 di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, Selasa (30/9).

Di samping itu, Rico menilai fenomena ini membuat banyak pekerjaan kreatif bergeser ke arah penggunaan freelancer hingga otomatisasi penuh. Ia menganggap tren semacam polaroid editan dengan idola atau filter AI bukan sekadar hiburan, tetapi juga berpotensi merusak orisinalitas karya ketika diarahkan pada tujuan monetisasi.

“Kalau konteksnya bercanda mungkin aman, tapi kalau sudah dipakai untuk menggiring opini atau dimonetisasi, itu jelas bermasalah,” lanjut Rico.

Salah satu peserta CBX sekaligus mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Maudia menilai media arus utama lebih kredibel karena melalui proses verifikasi dibanding media sosial yang rawan hoaks. Ia menyebut penggunaan AI bisa mempercepat pekerjaan jurnalistik, namun pencantuman sumber dalam setiap konten tetap harus diperhatikan.

“Kalau jadi jurnalis, saya ingin bikin konten real dan selalu mencantumkan sumber,” tegas Maudia saat diwawancarai di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, Selasa (30/9).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *