Sumber: Blog Kianalveigh
JOURNOLIBERTA.COM- Data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan lampu di seluruh dunia yang terus meningkat dapat mengancam lingkungan dan perubahan iklim global. Menurut laporan dari International Energy Agency (IEA), penggunaan lampu di seluruh dunia akan meningkat sebesar 1,8 % setiap tahunnya hingga mencapai 5.300 terawatt/jam pada tahun 2030.
Peningkatan penggunaan lampu berlebihan yang dapat memicu perubahan iklim global serta berdampak pada kerugian ekonomi dan sosial yang signifikan. Selain itu, hal ini juga berdampak pada keberlangsungan hidup manusia dan keanekaragaman hayati.
Berdasarkan fakta tersebut, World Wide Fund for Nature (WWF) menginisiasi gerakan global bertajuk Earth Hour yakni mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintah global untuk mematikan lampu dan peralatan elektronik selama 60 menit (20.30 – 21.30 waktu setempat). Aksi yang dilakukan setiap hari Sabtu di pekan terakhir bulan Maret setiap tahunnya ini bertujuan sebagai bentuk kepedulian dan kontribusi terhadap upaya penanggulangan perubahan iklim secara simbolis.
Dikutip dari laman wwf.id, kegiatan ini pertama kali dimulai pada tahun 2007 di Sydney, Australia. Pada awalnya terdapat lebih dari 2,2 juta orang dan 2.000 unit bisnis yang terlibat dalam gerakan ini. Seiring berjalannya waktu, kini sudah ada lebih dari 185 negara yang turut serta mengikuti gerakan Earth Hour termasuk Indonesia.
Berdasarkan laporan hasil perhitungan daya yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat aksi Earth Hour pada 26 Maret 2022, tercatat bahwa hasil pemadaman lampu selama satu jam dapat menghemat listrik sebesar 171,55 megawatt hour (MWh). Angka ini berarti dapat menghemat anggaran sebesar Rp 247.837.924, dan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 160,23 ton CO2.
Menurut Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta, Fahma Wijayanti menyatakan, lingkungan universitas perlu berkontribusi mendukung gerakan earth hour. Hal itu dapat dilakukan dengan menyiapkan beberapa perangkat alternatif selama Earth Hour berlangsung.
“Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan sosialisasi ke seluruh civitas akademika, yang di dalamnya mensosialisasikan tujuan dan manfaat Earth Hour. Selain itu, pihak universitas juga dapat memfasilitasi dan mendukung sarana prasarana serta kebijakan, misalnya, menyiapkan perangkat alternatif di laboratorium yang membutuhkan pendinginan atau pemanasan kontinu ketika listrik dimatikan. Pemangku kebijakan seperti rektor atau dekan juga dapat membuat instruksi formal terkait Earth Hour,” jelas Fahma via WhatsApp, Rabu (29/3/2023).
Di sisi lain, Fahma menambahkan, kegiatan Earth Hour dapat didukung sektor industri secara moral dengan memberikan kesadaran dan kepedulian di kalangan industri terhadap kebaikan lingkungan. Menurutnya, pelaku di bidang industri harus dapat mengubah perilaku serta menumbuhkan sikap bijak terhadap alam yang dampaknya sangat signifikan bagi global.
“Mengurangi aktivitas produksi yang menggunakan listrik satu jam dalam 365 x 24 jam sepertinya tidak signifikan, karena tidak ada alasan untuk penurunan produktivitas atau lainnya. Maka dari itu, bisa disubstitusi pada kegiatan non listrik, contohnya dukungan moral,” ujarnya.
Kendati demikian, tidak semua masyarakat di Indonesia mengetahui gerakan Earth Hour sebagai salah satu upaya penyelamatan lingkungan. Menurut Fahma, hal ini penting untuk dilakukan sosialisasi masif sampai ke pelosok dengan cara sistem berantai, mulai dari kelompok pusat pemerintahan sampai jajaran bawah daerah seperti RT, RW, serta kelompok masyarakat non pemerintah.
“Gunakan lingkungan pendidikan dan kelompok keagamaan sebagai media sosialisasi, dan tak lupa, menyebarkan informasi terkait Earth Hour melalui dunia digital mengingat di zaman yang modern ini hampir semua pelosok Indonesia mengenal media sosial,” ujar Fahma.
Lebih lanjut, Fahma mengatakan bahwa pemerintah seharusnya juga ikut mendukung adanya gerakan Earth Hour dan kesadaran terhadap lingkungan. Hal itu dapat dilakukan pemerintah dengan menginstruksikan jajarannya untuk menyukseskan dan wajib berperan dalam gerakan ini.
“Harapan saya kedepannya untuk Earth Hour ini dapat direspon positif dan diimplementasikan oleh semua masyarakat di dunia, dan Earth Hour menjadi gerakan yang benar-benar menanamkan etika berinteraksi ramah lingkungan bagi semua orang yang melakukan, melihat, atau mendengar gerakan tersebut,” pungkas Fahma.
Penulis: Titania
Editor: Putri Nadhila, Shinta Fitrotun Nihayah
