Foto: Panggung Pelajar Jadi Cermin Realitas Pendidikan

Journoliberta.com – Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Selatan bersama Simpul Interaksi Teater Selatan (SINTESA) kembali gelar Festival Teater Pelajar Jakarta Selatan di Gedung Teater Bulungan, Jakarta Selatan, pada 21-27 Juli 2025. Festival ini menampilkan 14 kelompok teater dari berbagai sekolah di Jakarta Selatan. Acara ini merupakan kompetisi antar sekolah yang akan menghasilkan tiga penampil terbaik untuk mewakili Jakarta Selatan di tingkat provinsi.

Teater Alpus 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) Islam Al Azhar 1 Jakarta menjadi kelompok teater pertama yang tampil pada Senin (21/7). Lakon ASBUN: Apakah Pendidikan Kita Sudah Sepenuhnya Merdeka? yang dibawakan berisi kritik tajam terhadap sistem pendidikan nasional. Penulis naskah ASBUN, Panji Gozali mengungkapkan, naskah ini berangkat dari keresahan akan kebijakan pendidikan yang selama ini dianggap benar ternyata justru menutup ruang ekspresi dan pemikiran kritis siswa.

“Di balik itu semua ada pemikiran-pemikiran anak yang harusnya berkembang malah jadi mati kutu karena sistem pendidikan atau kesalahpahaman orang tua dan guru dalam memaknai pembelajaran anak,” ungkap Panji saat diwawancarai di Gedung Teater Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (21/7).

Naskah ini menyoroti bagaimana penyebaran informasi yang tidak akurat bisa memicu kesalahpahaman, khususnya di lingkungan sekolah. Panji menambahkan, pertunjukan ini merupakan ajakan untuk meninjau ulang cara guru, orang tua, dan siswa berinteraksi dalam ekosistem pendidikan.

“Pertunjukan ini seperti ‘bom waktu’, kita enggak tau kapan dia akan meledak di pikiran dan perasaan penonton sampai pada akhirnya dia akan berdampak. Membangun kesadaran kesadaran untuk apa berpikir logis dan bersifat etis,” jelasnya.

Masih di tempat yang sama, salah satu aktor drama, Rendy Dwi mengatakan, pertunjukan ini bukan sekadar panggung hiburan, tapi cermin bagi kondisi pendidikan saat ini. Ia menambahkan cerita yang ditampilkan tentang realitas yang mereka alami di sekolah.

“Bukan untuk kita sendiri, tapi untuk teman-teman kita yang lain, terlebih inspirasi untuk teater ini diambil dari dari kondisi pendidikan di Indonesia. Jadi, kita merasa kalau kita berbicara untuk teman-teman kita juga yang di luar sana,” ungkapnya.

Di lain sisi, Ukail Abiyu sebagai salah satu aktor lainnya, berpesan untuk tidak menyebarluaskan informasi yang diterima sebelum diverifikasi sumbernya. Ia juga berharap untuk perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.

“Kalau kita dapat berita itu jangan langsung disebar, cari tahu dulu sumbernya agar tidak jadi miskom. Dan pendidikan-pendidikan di sekolah ini juga kalau bisa ya tolong diperbaiki,” tuturnya.

Salah seorang siswi, Arundina Putri mengungkapkan, ASBUN sangat relevan dengan kehidupan pelajar masa kini. Ia mengatakan, salah satu yang sering dialami adalah pungutan liar yang juga ditampilkan dalam pertunjukan.

“Kadang aku juga kalau ngeliat iuran-iuran di sekolah dan aku tuh kurang ngerti itu buat apa aku jadi suka mikir, kok bisa sih semahal ini,” ungkap Arundina.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *