Journoliberta.com – Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke 498 dengan tema ‘Jakarta Kota Global dan Berbudaya’, Minggu (22/6). Perayaan yang digelar di beberapa tempat, seperti Monumen Nasional (Monas), Bundaran Hotel Indonesia (HI), dan Lapangan Banteng ini diisi dengan rangkaian acara, mulai dari upacara di Monas, rapat paripurna, pameran seni dan budaya di Pos Bloc, hingga pertunjukan kolosal pencak silat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta dukungan dari seluruh warga untuk membangun kota Jakarta yang lebih baik. Selain itu, ia juga mengajak seluruh warga untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global dengan tetap menjunjung tinggi kebudayaan.
“Hari ini kita memperingati 498 tahun Kota Jakarta yang kita cintai bersama. Saat ini, kita semua harus menjunjung tinggi akar budaya tersebut agar menjadi simbol utama Jakarta sebagai kota global, kota berbudaya, sekaligus titik temu peradaban yang dinamis,” ujar Pramono dalam sambutannya di Lapangan Banteng, Minggu (22/6).
Di sisi lain, Seni Bela Diri (ASBD) Universitas Al-Azhar menggelar sesi latihan untuk pertunjukan kolosal pencak silat yang akan digelar di Bundaran HI. Ketua Umum Pengurus Pusat ASBD, Nuni Harniati menyebut pemilihan pertunjukan kolosal pencak silat sebagai bentuk kreativitas internal perguruan tinggi, meski tidak dirancang dalam kolaborasi formal sejak awal dengan pihak luar.
“Perguruan ASBD ini wadahnya di bawah sekolah Al-Azhar, yang kebetulan ada di Jakarta, jadi kita inisiatif menjadi salah satu rangkaian perayaan HUT Jakarta ini,” ucap Nuni saat diwawancarai di Bundaran HI, Minggu (22/6).

Di samping itu, Nuni juga menyampaikan jurus yang akan ditampilkan dalam pertunjukan Kolosal Pencak Silat adalah jurus Tunggal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Ia menjelaskan jurus Tunggal merupakan jurus baku khas dari IPSI yang sarat dengan nilai-nilai tradisi bela diri asli Nusantara.
“Di pertunjukkan nanti ditampilkan jurus Tunggal IPSI, yang memang jurus Tunggal Baku dari organisasi IPSI sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nuni menilai minat generasi muda terhadap seni pencak silat menurun. Merespons hal ini, Nuni berupaya memajukan pencak silat melalui berbagai pendekatan kreatif dan relevan dengan gaya hidup anak muda saat ini.
“Sekarang harus dikreasikan, harus disesuaikan dengan zaman. Kami adakan kegiatan di luar seperti jalan bersama, berenang, hingga menghadirkan narasumber terkenal untuk menarik minat generasi muda,” jelasnya kembali.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Soleh mengungkapkan alasannya menghadiri acara puncak HUT DKI karena bertepatan dengan hari libur kerja. Ia menyebut acara ini jadi pilihan tepat untuk mengisi waktu luang di akhir pekan.

“Karena hari libur ya, mumpung ada hari kosong terus ada konser gratis juga, ada banyak event juga acara-acara gitu dan kebetulan saya juga habis dari Pekan Raya Jakarta (PRJ), event Jakarta juga,” ujar Saleh saat ditemui langsung di Lapangan Banteng, Minggu (22/6).
Tak hanya itu, Saleh juga mengajak masyarakat Jakarta untuk lebih mengenal budaya Betawi sebagai bagian dari identitas kota Jakarta. Ia juga mengatakan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam upaya pelestarian budaya Betawi di era modern saat ini.
“Untuk melestarikan budaya Jakarta, acara ini bagus sekali apalagi untuk generasi muda ya, apalagi saya juga pendatang dari luar kota jadi belajar lagi gitu tentang budaya-budaya disini,” tambah Saleh.
Sebagai penutup, Saleh berharap warga Jakarta terus menjaga nilai-nilai kebudayaan Betawi. Selain itu, ia juga berharap Jakarta bisa menjadi kota yang lebih baik di masa depan.
“Harapannya sih, semoga budaya selalu terjaga terus kota Jakarta menjadi kota yang tambah maju, jaya dan sukses serta warganya bahagia selalu,” tutupnya.
