JOURNOLIBERTA.COM – Pengatur jalan liar atau yang akrab disebut sebagai “Pak Ogah”, akhir-akhir ini ramai diperbincangkan publik. Pasalnya, kemunculan Pak Ogah menimbulkan pro kontra bagi para pengendara.
Tak sedikit pengendara yang menganggap bahwa keberadaan Pak Ogah sebagai penambah kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Namun, ada pula pengendara yang beranggapan bahwa keberadaan Pak Ogah ini membantu mereka saat berada di persimpangan jalan.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Wildan (21) menganggap keberadaan Pak Ogah meresahkan para pengguna jalan.
“Pak Ogah yang ada di jalanan ini bikin resah, terutama saya pengendara motor lagi buru-buru nih di jalan, eh dia malah berdiri di tengah jalan seenaknya berhentiin kendaraan lain yang menghalangi mobil mau belok,” ungkap Wildan, Kamis (6/7/2023).
Menurut Wildan, aksi yang dilakukan oleh Pak Ogah menjadi salah satu penyebab kemacetan dan kesemrawutan di jalan.
“Menurut saya aksi Pak Ogah ini juga menjadi salah satu penyebab macet di jalan, contohnya Dia berhentiin kendaraan seenaknya yang bikin ganggu arus lalu lintas dan bikin tambah semrawut jalan,” ujar Wildan lebih lanjut.
Berbeda dengan Wildan, Anto (43) sebagai pengendara mobil mengaku keberadaan Pak Ogah justru dapat membantunya ketika ingin berbelok di persimpangan.
“Menurut saya adanya Pak Ogah dapat membantu pengendara, terutama saya sebagai pengendara mobil yang kadang sulit buat belok saat di persimpangan,” ungkap Anto, Kamis (6/7/2023).
Namun, Anto menambahkan, walaupun Pak Ogah membantu mengatur lalu lintas, tetapi tindakannya masih ilegal dan tidak dilindungi oleh hukum.
“Tindakan Pak Ogah ini menurut saya masih ilegal, karena belum ada undang-undang yang mengaturnya dan tidak dilindungi hukum, sehingga jika terjadi kecelakaan tidak ada yang bisa bertanggung jawab,” tambah Anto.
Di sisi lain, seorang Pak Ogah, Yahya (35) menyatakan dipilihnya profesi menjadi pengatur jalan liar dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan dan keterbatasan ekonomi.
“Saya jadi Pak Ogah udah sekitar lima bulan, ya ini juga jadi pilihan karena sekarang susah cari kerja, syarat melamar kerja juga makin sulit, mau nggak mau begini karena keterbatasan biaya juga,” ungkap Yahya, Kamis (6/7/2023).
Meski begitu, pekerjaannya yang cukup membahayakan nyawa tersebut, Yahya justru mengaku bahwa menjadi Pak Ogah seperti sukarelawan, tidak ada paksaan untuk memberi imbalan bagi pengendara.
“Ini juga bisa dibilang sukarelawan ya, karena nggak ada paksaan pengendara buat kasih uang, kita jalanin tugas aja bantu pengendara yang mau nyebrang, kalau dikasih Alhamdulillah, kalau enggak ya sudah,” jelasnya.
Penulis: Norma Desvia Rahman
Editor: Nurma Nafisa
