Mahasiswa Jurnalistik Tingkat Akhir Pertanyakan Efektivitas Mata Kuliah

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Mahasiswa semester tujuh Program Studi Jurnalistik menjalani kegiatan akademik dengan mengikuti sejumlah mata kuliah yang diiringi dengan praktik magang. Kondisi ini menyebabkan sebagian mahasiswa merasa mengalami hambatan dan keterlambatan dalam proses penyusunan proposal skripsi.

Mahasiswa Jurnalistik semester tujuh, Nikita Earlene Salsabila, menanggapi terkait adanya beberapa mata kuliah di semester tujuh selain magang. Nikita berpendapat ia sedikit kecewa sebab ia melihat temannya dari fakultas lain sudah fokus mengerjakan proposal dan bahkan bimbingan di semester tujuh. Namun, ia menyatakan pihak dosen pasti sudah ada pertimbangan dan lain hal. 

“Saya  sedikit kecewa karena teman dari fakultas lain mereka ada yang sudah fokus proposal maupun skripsi. Sedikit merasa terlambat dibanding yang lain. Tetapi, terkait kurikulum pasti dosen juga ada pertimbangan satu dan lain hal,” ujarnya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Sabtu (12/10).

Meskipun demikian, Nikita mengaku bahwa penjadwalan magang di semester tujuh memang sudah tepat. Lebih lanjut, jika magang dilakukan di akhir semester menurutnya dapat menjadi salah satu sarana untuk mengerjakan penelitian skripsi.

“Magang di semester tujuh sudah tepat karena di awal semester perkuliahan banyak mata kuliah dan mahasiswa sibuk. Sedangkan di akhir mereka fokus skripsi. Jadi, di semester tujuh mahasiswa masih mampu magang tanpa terlalu terbebani dan bagi yang penelitian lapangan, tetap bisa menyeimbangkan keduanya,” tukasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Program Studi (Kaprodi) Jurnalistik, Bintan Humeira, mengungkapkan alasan adanya mata kuliah magang di semester tujuh sebab mahasiswa dirasa cukup kompeten secara akademik dan mampu memberikan kontribusi maksimal di lingkungan kerja. Lebih lanjut, ia mengatakan jadwal  magang di semester tujuh dipilih agar mahasiswa telah menyelesaikan mata kuliah utama sehingga mereka dapat fokus pada program magang dan skripsi.

“Magang itu sebaiknya dilakukan setelah mahasiswa benar-benar siap agar mereka bisa berkontribusi dan tidak gagap. Kalau magangnya terlalu muda, malah mengganggu karena mahasiswa belum cukup kompeten dan harus tetap menyelesaikan mata kuliah. Makanya di semester tujuh supaya mata kuliah-mata kuliah itu selesai dulu. Jadi, kalau mau magang, kalian gak berat karena tinggal dua sampai tiga mata kuliah lagi, dan sisanya bisa diatur sambil magang,” ucapnya saat diwawancarai melalui Google Meet, Kamis (25/9).

Kebijakan ini diakui sebagai bagian dari kurikulum terdahulu. Maka dari itu, akan ada evaluasi dengan meniadakan mata kuliah pada semester tujuh yang ditujukan untuk angkatan berikutnya. Lebih lanjut, Bintan tidak menampik bahwa adanya mata kuliah di semester akhir juga membuat mahasiswa jadi semangat mengerjakan skripsi karena masih terkoneksi dengan lingkungan akademik.

“Malah di struktur yang baru nih kurikulum yang 2025 itu semester tujuh udah gak ada kuliah. Kecuali magang dan skripsi kalau gak salah. Tetapi saya menilai mahasiswa kalau masih ada mata kuliah artinya kan mereka ke kampus ya. Nah setelah kelas mereka bisa ke perpustakaan mengerjakan skripsi, di kampus mereka ketemu teman-teman yang mengerjakan juga, jadinya ada semangat untuk ngerjain skripsi,” ucapnya.

Bintan menyatakan bahwa semua aturan dan kebijakan dibuat untuk mendukung mahasiswa lulus tepat waktu. Sebagai penutup, ia berpesan kepada mahasiswa semester tujuh agar mengatur prioritas, memperhatikan akademik, dan berkonsultasi ke prodi jika ada masalah pribadi. Ia juga menekankan bahwa mahasiswa harus mandiri dan memiliki inisiatif tinggi.

“Aturan yang dibuat prodi bertujuan agar mahasiswa lulus tepat waktu, namun kenyataannya kembali ke mahasiswa karena ada yang terhambat kendala. Mahasiswa harus aware dengan mata kuliahnya, periksa Satuan Kredit Sistem (SKS)-nya, bersikap dewasa, hadapi masalahnya, kenali diri kalian, dan jika ada masalah berkonsultasi ke prodi. Jika perlu nanti kami cari solusinya bukan bantu menyelesaikan masalah karena itu adalah tanggung jawab kalian,” tukasnya.

Selaras dengan Bintan, Nikita menilai bahwa pengaruh kebijakan terhadap produktivitas mahasiswa bergantung pada kemampuan mereka dalam mengatur waktu. 

“Menghambat atau enggaknya itu tergantung cara mahasiswanya membagi waktu dan mengejar dosen terkait pengajuan proposal dan semacamnya,” ucapnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *