Journoliberta.com – Perdebatan mengenai sahur menjadi sorotan di media sosial usai pernyataan seorang beauty influencer yang menyebut sahur mengganggu waktu istirahatnya. Polemik ini memicu perbedaan pandangan antara kebutuhan istirahat dengan nilai ketaatan ibadah umat Muslim.
Dikutip dari madiun.jatimtimes.com, Cut Rizki secara terbuka menyebut bahwa sahur cenderung mengganggu jam istirahatnya karena ia ingin tidur lebih lama. Ia lebih memilih makan dalam porsi besar pada malam hari sebelum tidur serta berpendapat bahwa sahur bukan untuk semua orang.
“Aku lebih milih makan agak sedikit banyak pas malam terus aku tidur, sahur itu bukan untuk semua orang,” ungkap Cut Rizki dalam video yang diunggah ulang oleh akun @exclusivetimnasartis, Selasa (24/2).
Menanggapi hal tersebut, Ustadz Ajo menjelaskan bahwa secara hukum fikih, puasa seseorang tetap dianggap sah meskipun dilakukan tanpa sahur. Namun, ia menegaskan tidak ada kondisi syariat yang menggugurkan anjuran sahur sehingga pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan.
“Secara hukum fikih, puasa seseorang memang tetap sah meskipun dia tidak sahur, namun bukan berarti kita bisa membenarkan pernyataan bahwa sahur itu bukan untuk semua orang,” ujar Ustadz Ajo saat diwawancarai di kediamannya, Jakarta Selatan, Senin (2/3).
Hal ini sejalan dengan QS. As-Sajdah ayat 16-17 yang menegaskan bahwa pengorbanan waktu istirahat merupakan bentuk ketaatan umat Muslim kepada Tuhannya. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa tindakan menjauhkan diri dari tempat tidur akan mendapatkan balasan istimewa berupa nikmat yang menyenangkan hati.
“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (macam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka kerjakan.”
Nilai ketaatan tersebut diperkuat melalui Hadis Riwayat Muslim Nomor 1836 mengenai perbedaan mendasar antara umat Muslim dan Ahli Kitab. Hadis tersebut menjelaskan bahwa aktivitas makan sahur merupakan identitas pembeda dalam menjalankan ibadah puasa.
“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”
Dalam riwayat tersebut, sahur diposisikan sebagai identitas yang membedakan berpuasa umat Islam dengan umat terdahulu. Sementara itu, mengenai hak tubuh untuk istirahat, Ustadz Ajo menilai Islam menjunjung prinsip keseimbangan (tawazun) melalui manajemen waktu yang tepat. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan pola tidur yang teratur agar tubuh tetap bugar.
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencontohkan untuk segera tidur setelah Isya agar kita bisa bangun dengan segar di sepertiga malam,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa waktu sahur merupakan momen emas yang Allah sediakan khusus bagi hamba-Nya dengan keberkahan yang berdampak hingga akhirat. Sangat disayangkan jika waktu yang begitu mulia hanya ditukar dengan tambahan tidur beberapa jam.
“Waktu sahur itu sebenarnya adalah waktu emas yang Allah sediakan khusus buat hamba-Nya. Saat itu pintu langit terbuka, Allah menurunkan rahmat, dan malaikat turun mengaminkan doa kita. Tidur itu sementara, tapi keberkahan sahur dampaknya untuk dunia dan akhirat. Kalau niat sudah lillahi ta’ala, tidak ada alasan lagi meninggalkan sahur,” pungkasnya.