Journoliberta.com – Kualitas fasilitas dasar UIN Jakarta masih dipertanyakan meski kampus gencar melakukan pembangunan dan revitalisasi. Sejumlah mahasiswa menilai perbaikan yang digaungkan kampus belum sepenuhnya menyentuh persoalan yang mereka alami setiap hari.
Menanggapi hal tersebut, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Siti Aisyah, menyoroti kondisi toilet dan ruang kelas. Ia menilai fasilitas tersebut belum sebanding dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayarkan.
“Menurut aku dibanding dengan UKT yang kita bayar itu sih kurang, masih 6/10 lah. Dari toilet suka gak ada gayung, tisu tidak ada, sabun juga, dan wastafel airnya mati,” ujar Aisyah saat diwawancarai via WhatsApp, Sabtu (28/2).
Sementara itu, ia menambahkan, keran yang rusak membuat lantai becek dan memicu genangan. Baginya, persoalan dasar seperti itu semestinya tidak terus terjadi berulang di lingkungan kampus.
“Keran yang tidak bisa dimatikan bikin toilet kotor dan banjir. Kalau bisa fasilitas dasar seperti itu harus lebih diperhatikan,” lanjutnya.
Tidak hanya itu, Aisyah juga menyoroti kondisi meja di kelas yang tidak seragam dan sebagian telah rusak. Ia menyebut mahasiswa kerap menukar bangku karena merasa kualitas kenyamanan berbeda.
“Masih ada meja kayu lama campur sama yang baru, bahkan ada yang patah. Jadi mahasiswa suka tukar-tukar bangku agar dapat yang lebih layak,” jelasnya.
Senada dengan Aisyah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Intan, menilai pembaruan fasilitas belum seimbang konsistensi perawatan. Ia mengakui adanya smart TV dan kursi yang lebih layak, tetapi pelayanan dinilai masih menyisakan persoalan.
“Jujur untuk UKT golongan enam bagi aku masih terlalu mahal dan kurang worth it jika dibandingkan dengan fasilitas yang ada,” ucap Intan saat diwawancarai via WhatsApp, Sabtu (28/2).
Lebih lanjut, ia juga menambahkan pengalaman ketika kelas tidak segera dibukakan petugas hingga mahasiswa menunggu cukup lama. Menurutnya, pelayanan yang lambat memperkuat kesan bahwa mahasiswa belum menjadi prioritas.
“Waktu itu kami sudah lapor dan minta dibukakan kelas pengganti, tapi petugas terkesan ogah-ogahan dan tidak percaya, sampai kami harus menunggu lesehan hampir satu jam karena kelas tidak kunjung dibuka,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Rumah Tangga UIN Jakarta, Abdul Halim Mahmudi, menyatakan kampus terus melakukan pembenahan secara bertahap. Ia menegaskan revitalisasi lingkungan dan pembangunan infrastruktur baru tengah dipersiapkan.
“Tahun ini kami berencana membangun Fakultas Ushuluddin (FU) di Kampung Utan serta Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PUSTIPANDA). Kami juga sedang melakukan revitalisasi lingkungan kampus,” ujar Halim saat diwawancarai di gedung Rektorat UIN Jakarta, Rabu (25/2).
Di samping itu, kampus telah menerapkan sistem pengelolaan sampah mandiri di kampus Pendidikan Profesi Guru (PPG) melalui Tempat Pembuatan Sampah Terpadu Mandiri (TPSTM) Kalifa untuk mencegah penumpukan sampah. Selain itu, kampus juga tengah menata ulang trotoar dan merencanakan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dengan akses disabilitas.
“Sampah diangkut setiap hari dan diolah menjadi kompos, pakan magot, hingga briket. Selain itu penataan pedestrian dan rancangan JPO sudah disiapkan dan sedang dibahas bersama pemerintah daerah,” tegasnya.
Sementara itu, ia menyampaikan bahwa kampus akan memperluas pemasangan kamera pengawas dari pintu masuk hingga lorong fakultas untuk meningkatkan keamanan. Mahasiswa juga dapat menyampaikan aduan melalui Sistem Manajemen Aduan Sarana dan Prasarana Terpadu (SIMANTRA), yang akan diproses sesuai tingkat urgensinya.
“Kamera pengawas akan dibuat di beberapa titik utama dari pintu masuk sampai pintu keluar. Aduan mahasiswa melalui SIMANTRA juga akan ditindaklanjuti sesuai prioritasnya,” tutupnya.