Journoliberta.com – Salah satu mahasiswa semester 6 Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, Dzikry Ardhan memiliki keterampilan unik dalam seni pendongengan melalui teknik Ventriloquism. Seni ini dikenal sebagai sulap suara atau kemampuan berbicara tanpa menggerakkan bibir.
Ketertarikan Dzikry terhadap seni ventrilokuisme bermula pada saat ia menonton salah satu peserta pencarian bakat yang merupakan seorang ventrilokuis bernama Sultoni.
“Saya lihat Kak Toni di Indonesia’s Got Talent itu menarik banget, lalu saya berlatih sendiri melalui channel YouTube Kak Toni,” ungkapnya saat diwawancarai langsung, Rabu (23/4).
Sementara itu, Dzikry mulai tertarik dengan seni mendongeng ketika mengikuti lomba storytelling dan berhasil meraih juara 3 saat ia masih duduk di bangku SMA pada tahun 2019. Sejak saat itu, ia ingin menekuni seni mendongeng sehingga ikut bergabung dalam komunitas dongeng yaitu Negeri Kami.
Perjalanan Dzikry menekuni seni pendongengan semakin berkembang saat ia menjadi Duta Baca Tangerang Selatan. Ia diberi kesempatan untuk mendongeng di hadapan anak-anak menggunakan boneka jari.
“Dari situ saya pikir kalau pakai boneka yang lebih besar anak-anak akan lebih tertarik. Ya sudah sehabis itu dongeng berikutnya aku pakai boneka besar,” lanjutnya.
Dzikry juga menyadari mendongeng dengan teknik ventrilokuisme ini dapat menarik perhatian banyak anak karena mereka melihat dua peran oleh satu pendongeng.
Usai tampil di hadapan anak-anak, Dzikry mulai mengembangkan kegiatan mendongengnya di akun media sosial miliknya. Namun siapa sangka, ia mendapatkan banyak tawaran untuk mendongeng, terutama saat bulan Ramadan. Pada mulanya, ia meminjam boneka dari Negeri Kami, namun ia mulai membeli sendiri bonekanya yang ia beri nama Iqi dan Ciko.
Walau terlihat mudah, Dzikry juga memiliki tantangannya sendiri sebagai seorang pendongeng. Ia mengaku kesulitan saat menghadapi anak-anak yang penuh semangat.
“Menurutku, mendongengnya tidak terlalu sulit, tetapi yang sulit adalah bagaimana cara kita mendiamkan anak-anak. Kalau saya sering menggunakan ice breaking atau sulap, ini penting karena untuk memudahkan kita kedepannya,” ujarnya.
Sebagai seorang ventrilokuis pemula, Dzikry masih mengalami hambatan dalam mengeluarkan suara berbeda dari suara aslinya.
“Kadang-kadang suka keliru suara sendiri sama suara perutnya yang masih sama, memang masih harus banyak belajar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dzikry mengaku, keterampilan dalam seni dongeng sudah mampu memberinya penghasilan yang cukup sebagai seorang mahasiswa.
“Saya suka mendongeng karena saya menyukai anak-anak dan menjadi pendongeng ini adalah salah satu cara yang mudah untuk meraih penghasilan, mengingat target audiensinya yang luas,” ungkap Dzikry.
Kemajuan Dzikry dalam seni dongeng terbukti dari banyak tawaran yang datang untuk menggunakan jasanya. Meski begitu, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa dan selalu memastikan tidak ada jadwal yang bertabrakan dengan kuliahnya.
“Saya usahakan tidak bentrok jadwal kuliah, paling saya ambil hari Jumat, Sabtu, dan Minggu,” pungkasnya.