Penggunaan AI di Kampus, Efisiensi atau Penurunan Kreativitas?

Journoliberta.com – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam produksi konten media sosial kampus mulai menjadi perhatian di kalangan mahasiswa. Di satu sisi, teknologi ini dinilai mampu mempercepat proses produksi, namun di sisi lain memunculkan diskusi mengenai batas penggunaannya serta dampaknya terhadap ruang kreativitas mahasiswa.

Mahasiswa Program Studi jurnalistik dengan latar belakang Desain Kreatif Visual (DKV), Rasya Zafrandi Putra menilai bahwa AI memberikan kemudahan dalam proses produksi konten, terutama dari segi efisiensi waktu. Namun, ia juga melihat adanya potensi dampak terhadap proses kreatif mahasiswa, seperti kecenderungan proses kreatif yang menjadi lebih instan, terbatasnya eksplorasi ide, serta menurunnya daya kritis dalam menyusun konsep.

“Prosesnya memang cepat, tapi ada dampak seperti kreativitas yang bisa terhambat dan mahasiswa jadi kurang kritis dalam menyusun konsep,” ujar Rasya saat diwawancarai via Whatsapp, Rabu (22/4).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kehadiran AI tidak serta-merta mengurangi kreativitas mahasiswa. Menurutnya, setiap individu tetap memiliki gaya dan pendekatan kreatif yang berbeda.

“Setiap mahasiswa punya ciri khas masing-masing, jadi AI tidak langsung mengurangi kreativitas,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kemahasiswaan UIN Jakarta, Muhammad Furqon, menyatakan bahwa penggunaan AI dalam produksi konten bukan merupakan kebijakan formal institusi, melainkan pilihan teknis di tingkat operasional tim kreatif. Ia menjelaskan bahwa AI digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung proses produksi konten, bukan untuk menggantikan peran manusia.

“Ini murni pilihan teknis di level operasional tim kreatif. UIN Jakarta, dalam hal ini Kemahasiswaan, tidak memiliki kebijakan formal yang mewajibkan penggunaan AI, apalagi menggantikan peran manusia. AI hanyalah salah satu perangkat kerja tambahan bagi tim, sama halnya seperti penggunaan aplikasi desain atau software editing lainnya,” jelas Muhammad Furqon saat diwawancarai via Whatsapp Jumat, (24/4).

Ia menampik anggapan bahwa teknologi ini akan menggeser peran mahasiswa. Sebaliknya, Furqon menyebut mahasiswa sebagai aset yang membawa ‘nyawa’ dan atmosfer asli kampus yang tidak dimiliki AI.

“Mahasiswa adalah aset kreatif utama kami. Peran mahasiswa justru sangat krusial. Kami sangat terbuka dan justru mengutamakan keterlibatan mahasiswa yang memiliki keahlian desain, videografi, dan jurnalistik,” lanjutnya.

Menanggapi kritik yang muncul, pihak kampus mengaku terbuka dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi. Mereka menekankan bahwa penggunaan AI harus tetap berada dalam batas yang tidak mengurangi peran manusia.

“Keunikan perspektif mahasiswa tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun karena mahasiswa membawa ‘nyawa’ dan atmosfer kampus yang asli dalam setiap konten,” ujarnya.

Pihak Kemahasiswaan juga berkomitmen untuk menjaga batasan penggunaan teknologi ini. Ia mengatakan AI hanya diperuntukkan bagi tugas administratif desain atau inspirasi visual dasar, sementara konten naratif dan dokumentasi tetap menjadi ranah pemikiran manusia.

“Kami berkomitmen untuk memastikan penggunaan AI tetap minimal dan tidak mengurangi ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi dan mendapatkan pengalaman kerja nyata di bidang kreatif,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *