Penipuan Berkedok Akademik, Mahasiswa UIN Jakarta Diimbau Waspada

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Kasus penipuan digital kembali terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Dalam kasus penipuan ini, pelaku mengaku sebagai dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) mencoba mengelabui mahasiswa melalui aplikasi WhatsApp dengan meminta data pribadi, seperti kontak ketua kelas dan penanggung jawab (PJ) mata kuliah.

Salah satu korban, Dinda mengungkapkan, awalnya ia mengira panggilan telepon tersebut berasal dari kerabat, sehingga ia meneruskannya kepada ibunya. Setelah ibunya menyatakan bahwa yang menelepon adalah seorang dosen, Dinda pun menerima telepon itu kembali. Namun, ia mulai curiga karena nada bicara penelepon terdengar sedikit meninggi.

“Aku malah sama sekali enggak berpikir bahwa itu bukan dosen, karena dari cara dia ngomong di telepon benar-benar sopan, tapi ya nadanya agak sedikit naik,” jelas Dinda melalui pesan WhatsApp, Selasa (28/4).

Beruntung, ia segera memberi informasi ini kepada temannya dan mengetahui bahwa penelepon tersebut bukanlah dosen, melainkan penipu. Dari kejadian itu ia pun menyadari pentingnya berhati-hati dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai informasi, bahkan jika datang dari seseorang yang mengaku sebagai dosen.

“Pelajaran paling besar dari kejadian ini tuh harus lebih crosscheck terhadap siapa yang kita hubungi, apalagi di era digital kayak sekarang, orang-orang bisa menipu dengan segala caranya,” tutur Dinda.

Kepala Program Studi Jurnalistik, Bintan Humeira, memberikan tanggapan terkait maraknya kasus penipuan digital yang mengatasnamakan dosen di lingkungan FDIKOM UIN Jakarta. Dalam upaya menangani kasus penipuan tersebut, pihak program studi mengirimkan edaran imbauan melalui WhatsApp.

“Setelah prodi mendapatkan laporan dari mahasiswa, kami langsung membuat edaran melalui WhatsApp yang dikirimkan ke seluruh mahasiswa lewat Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS). Informasi ini juga kami sebarkan di grup dosen prodi dan beberapa grup WhatsApp mahasiswa,” ungkap Bintan, melalui pesan WhatsApp, Minggu (4/5).

Lebih lanjut, persoalan ini bukan hanya menyangkut identitas dosen, melainkan juga bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran untuk memverifikasi setiap informasi yang diterima, terutama jika terasa mencurigakan atau tidak biasa. Ia juga menyoroti pentingnya mekanisme resmi untuk memverifikasi identitas dalam setiap komunikasi digital.

“Yang perlu dipahami adalah bahwa ruang digital memang sangat rentan terhadap penipuan. Hal ini disebabkan karena identitas di dunia maya sangat mudah dipalsukan dan akses terhadap ruang online dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kemampuan meretas sistem,” sambungnya.

Di sisi lain, mahasiswi Program Studi Jurnalistik, Najma, menilai bahwa mahasiswa masih sangat rentan menjadi korban penipuan digital karena minimnya kesadaran akan keamanan informasi dan kecenderungan untuk langsung percaya pada pesan yang tampak resmi atau mendesak.

“Seseorang mudah tertipu itu karena kita masih kurang kesadaran keamanan digital dan gampang percaya sama pesan yang terkesan mendesak atau resmi,” ujar Najma melalui pesan WhatsApp, Selasa (28/4).

Najma juga berbagi pengalamannya dalam menghadapi pesan mencurigakan. Ia biasa mengecek identitas pengirim terlebih dahulu menggunakan aplikasi seperti Get Contact dan jika masih ragu, ia akan langsung mengonfirmasi ke pihak kampus.

“Biasanya aku cek dulu nomornya, terus kalau masih ragu, aku tanya ke administrasi fakultas untuk memastikan,” ujarnya kembali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *