| Ilustrasi: Savira Agustin/Journo Liberta |
JOURNOLIBERTA.COM – Sejumlah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah memberikan
tanggapan beragam terkait surat edaran hasil rapat pimpinan kampus, Nomor
B-3270/R/HK.00.7/08/2021 yang merencanakan kegiatan kuliah tatap muka kembali
dilakukan. Beberapa universitas juga sudah mulai melakukan pembelajaran tatap
muka dengan mekanisme yang ditetapkan pemerintah.
Kevin Lianto Djaya, Mahasiswa
Fakultas Dakwah
dan Ilmu Komunikasi (FDIK) menyebutkan bahwa rencana kuliah luring
menjadi berita yang sangat menggembirakan. Pasalnya, selain karena tidak adanya
hambatan kuota maupun jaringan seperti kuliah daring. Kuliah luring ini juga menguntungkannya sebagai pengemudi ojek online.
“Setelah
sekian lama (kuliah daring), gue merasa masih banyak kelemahan dalam
mendapatkan ilmunya, terkadang kendala
jaringan, device yang tidak memadai, dan gangguan–gangguan yang tidak terduga seperti mic
atau kamera device yang kita gunakan
rusak. Dan dengan adanya rencana (kuliah luring) ini seperti angin segar untuk gue yang merupakan
salah satu driver ojek online karena makin banyak kesempatan
mendapatkan orderan di kampus kita,”
ungkapnya saat dihubungi melalui
WhatsApp, Minggu (12/9/2021).
Senada dengan Kevin, Mahasiswa semester 9 Jurusan
Pendidikan Kimia, Amin juga menanggapi rencana tersebut dengan baik.
Menurutnya, rencana kuliah luring tersebut bagus, karena kuliah daring
memberikan dampak yang cukup besar bagi proses penyusunan skripsi. Beberapa
mahasiswa yang memilih penelitian di dalam kelas seperti; pengaruh model
pembelajaran, metode pembelajaran, dan sebagainya pada akhirnya terpaksa
mengganti penelitian karena tidak memungkinkan untuk mengambil penelitian
secara luring di dalam kelas.
“Apalagi untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah
yang ada praktikumnya, seperti sains atau pendidikan sains itu pun terhambat,
karena belajarnya pun secara daring dan tidak memiliki bahan dan alat yang
memadai apabila melakukan praktikum di rumah,” tuturnya pada Sabtu,
(11/9/2021).
Ia juga menanggapi metode blended learning yakni
memadukan online dan offline dapat diterapkan di masa pandemi
seperti sekarang. Meski terdapat kendala apalagi pembelajaran online.
Sebab belum tentu semua mahasiswa memiliki perangkat yang memadai untuk
pembelajaran online.
Mengomentari hal tersebut, mahasiswa Jurusan Ekonomi
Syariah, Rahmad Darmawaan sangat setuju dengan kabar akan diadakannya kuliah
luring. Karna selama kuliah daring ia harus mengeluarkan biaya yang lebih untuk
membeli kuota internet yang kadang per bulannya bisa mencapai seratus ribu
rupiah sampai seratus lima puluh ribu rupiah. Namun, ia mengatakan jika kampus
ingin kembali mengadakan kuliah luring, maka penertiban protokol kesehatan
harus di lakukan. Selain itu, fasilitas seperti cek suhu tubuh, handsanitizer
harus disiapkan di ruang kelas.
“Saya sangat menunggu sekali kalau kuliah luring akan
segera diselenggarakan. Namun, dari pihak UINnya sendiri harus siap menertibkan
protokol-protokol kesehatan, tidak hanya cek suhu saja tetapi menyebarkan
tempat cuci tangan di area kampus dan menaruh Handsanitizer di setiap ruang
kelas. Terus mahasiswa (di dalam kelas) kalau sebelum pandemi kan itu full,
kalau saat pandemi harus 50 persen dan setiap bangku dikasih jarak.
Karna yang khawatir itu bukan (hanya) mahasiswa, tetapi orangtua yang dirumah
pasti sangat khawatir takut anaknya terpapar. Maka dari itu protokolnya,
kebijakan dan ketertibannya harus dijaga,” ujar Rahmad.
Mengomentari
terkait kesiapan pihak universitas dalam melaksanakan kuliah luring, Kevin
mempertanyakan keefektifan pemberlakuan pembatasan mahasiswa. Pasalnya jika 50
persen mahasiswa kuliah luring, bagaimana dengan sisanya yang kuliah daring dan
mengalami kendala sinyal. Hal itu, yang menurutnya masih perlu dikaji lagi oleh
pihak kampus.
“Untuk keadaan kampus sendiri gue rasa mereka sudah siap.
Akan tetapi, untuk pemberlakuan pembatasan mahasiswa di dalam ruangan kelas,
apakah ini efektif untuk keadaan belajar mengajar? apakah hal ini efektif juga untuk
mahasiswa yang mengikuti pembelajaran secara daring? Karena yang kita ketahui mahasiswa hanya di masukkan 50 persen dari total keseluruhan yang terdaftar
di absen dan 50 persen
lainnya tetap kuliah daring. Apabila
yang 50 persen daring itu ada sekitar 1-3 persen mengalami kendala sinyal,
apakah akan efektif juga? Itu
yang masih jadi masalah yang harus di kaji lagi sih,” tutup Kevin.
Penulis: Darryl Ramadhan dan Syifa Fauziah
Editor: Siti Hasanah Gustiyani
