Journoliberta.com – Whip Pink atau gas Dinitrogen Monoksida (N2O) dari tabung yang biasa digunakan untuk krim kocok atau anestesi medis menjadi perbincangan setelah berita kematian seorang influencer. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2016 serta Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 dijelaskan bahwa gas N2O ini digunakan untuk medis dan sebagai bahan tambahan pangan golongan propelan.
Tenaga Kesehatan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sukaraja, Nash (nama samaran), menjelaskan bahwa secara medis N2O tidak diberikan dalam kondisi murni, melainkan dicampur dengan gas lain dan dialirkan melalui alat khusus. Ia mengatakan bahwa dalam praktik medis, konsentrasi N2O diatur sekitar 40-70 persen dan tidak digunakan tanpa ada campuran kandungan lain.
“Whip Pink itu kandungannya gas N2O biasa dipake buat anestesi. Emang ada efek ansiolitik yang bikin relaksasi, tapi penggunaan dasarnya bukan buat dihisap 100% tanpa dicampur kandungan lain, jadi konsentrasinya sekitar 40-70% disalurin lewat Endotracheal Tube (ETT) atau face mask,” jelas Nash saat diwawancarai via Telegram, Minggu (15/2).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa overdosis N2O dapat menyebabkan penurunan kesadaran akibat hipoksia disertai gangguan denyut jantung. Dalam paparan jangka panjang, penggunaan berulang berisiko mengganggu penyerapan vitamin B12 yang berdampak pada gangguan saraf dan produksi sel darah merah.
“Kalau overdosis sudah pasti langsung collapse karena penurunan kesadaran karena hipoksia juga bradikardi. Efek jangka panjang bisa jadi defisiensi B12 karena absorbsinya ke darah keganggu alhasil gangguan ke saraf sama produksi sel darah merah yang bikin demensia, distrofi otot, dan lain-lain,” ujarnya.
Sementara itu, dosen bidang Kimia Pangan, Anna Muawanah menjelaskan N2O berfungsi sebagai propelan untuk menghasilkan busa tanpa proses pengocokan manual yang lama. Ia menambahkan, busa pada krim kocok terbentuk karena lemak menahan gas sehingga teksturnya menjadi kental berbusa dan stabil saat digunakan sebagai topping.
“Jadi propelan itu adalah bahan tambahan pangan berupa gas untuk mendorong pangan keluar dari kemasan,” jelas Anna saat diwawancarai via Google Meet, Kamis (19/2).
Anna mengingatkan bahwa risiko bisa muncul ketika penggunaan tidak sesuai mekanisme konsumsi normal. Ia menyebut paparan berlebihan dapat melampaui kapasitas tubuh untuk menghadapinya.
“Nah, kenapa bisa menimbulkan efek yang negatif adalah ketika cara penggunaannya tidak normal. Kemampuan tubuh kita untuk menghadapi sesuatu jadi lemah,” lanjutnya.
Di sisi lain, Nash menyatakan meski N2O aman digunakan dalam makanan sebagai propelan, tenaga kesehatan mengingatkan bahwa penyalahgunaan gas ini tidak dibenarkan. Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya memahami efek samping sebelum mengikuti tren.
“Gak usah ngikutin tren kalau gak aware sama efek sampingnya. Gak semua orang punya ilmu kebal cuma buat memenuhi ego FOMO,” pungkas Nash.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





