Foto: Jelang Perayaan Nyepi 2026, Pawai Ogoh-ogoh Ramaikan Bundaran HI

Journoliberta.com – Pawai ogoh-ogoh memeriahkan Festival Nyepi 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Minggu (8/3). Kegiatan yang menjadi bagian dari parade budaya tersebut menarik perhatian masyarakat yang tengah mengikuti Car Free Day (CFD). Pawai ini telah berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB dengan rute dari Monumen Nasional (Monas) menuju Bundaran HI dan kembali lagi ke Monas.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menyampaikan, bahwa pawai ogoh-ogoh digelar sebagai bagian dari festival budaya untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Ia memaparkan kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) Jakarta Raya dan Parisada Hindu Dharma Indonesia.

“Hari ini adalah festival Nyepi dalam rangka parade budaya dan pawai ogoh-ogoh untuk menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Pawai budaya ini melibatkan hampir 2.000 peserta yang menampilkan sekitar 13 hingga 15 ogoh-ogoh dalam satu rangkaian parade budaya,” ujar Rano saat memberikan sambutan di Bundaran HI, Minggu (8/3).

Salah satu peserta pawai ogoh-ogoh, I Nyoman Gede Agus Asrama menjelaskan, bahwa ogoh-ogoh memiliki makna sebagai simbol sifat-sifat negatif manusia yang harus dikendalikan menjelang Hari Raya Nyepi. Ia mengatakan simbol tersebut mengingatkan umat Hindu untuk meninggalkan sifat buruk dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Ogoh-ogoh ini simbol dari sifat-sifat buruk kita, angkara murka kita. Jadi menjelang tahun baru Saka kita harus menghilangkan sifat-sifat buruk itu agar menjadi pribadi yang lebih baik dan menjalankan darma atau kebenaran,” ucap Agus saat diwawancarai di Bundaran HI, Minggu (8/3).

Lebih lanjut, Agus mengatakan penyelenggaraan tradisi ogoh-ogoh di ruang publik Jakarta memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, panitia harus menghormati sesama pengguna ruang publik sekaligus memastikan kegiatan budaya tersebut tetap dapat berlangsung dengan tertib.

“Oleh karena itu kami berusaha semaksimal mungkin agar ruang publik tetap berjalan sebagaimana mestinya, tetapi tradisi seperti ini juga tetap diberi ruang ekspresi bagi umat Hindu,” jelasnya.

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya melestarikan budaya. Agus menyebut umat Hindu perlu menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak-anak dan remaja agar mereka dapat memahami serta meneruskan warisan leluhur.

“Salah satunya dengan melibatkan anak-anak dan remaja. Warisan yang kita terima dari para leluhur harus kita maknai, kemudian kita tradisikan dan kita lestarikan,” katanya.

Agus berharap pawai ogoh-ogoh di ruang publik Jakarta dapat memberi hiburan sekaligus menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat. Ia menilai kegiatan tersebut dapat menjadi ruang interaksi publik sekaligus sarana menyebarkan nilai-nilai positif kepada masyarakat luas.

“Kami berharap penonton bisa terhibur dan kegiatan ini bisa menginspirasi. Mudah-mudahan nilai-nilai kebaikan yang kami sosialisasikan juga bisa menyebar lebih luas, tidak hanya di Jakarta tetapi juga ke seluruh penjuru dunia,” harap Agus.

Di sisi lain, salah satu pengunjung pawai ogoh-ogoh, Isa, mengatakan awalnya tidak sengaja melihat pawai tersebut. Ia mengaku datang ke kawasan Bundaran HI untuk mengantar anaknya yang memiliki kegiatan di sekitar lokasi.

“Tadinya saya memang mengantar anak saya ada acara di sini, jadi sekalian saja ada pawai sekalian lihat,” tutur Isa saat ditemui di Bundaran HI, Minggu (8/3).

Selain itu, Isa mengatakan belum mengetahui makna ogoh-ogoh sebelum menyaksikan langsung pawai tersebut. Menurutnya, kehadiran pawai ogoh-ogoh di Jakarta penting untuk membantu masyarakat mengenalkan budaya Bali, khususnya tradisi umat Hindu.

“Jadi masyarakat bisa tahu kebudayaan dari Bali, terutama yang berkaitan dengan agama Hindu. Jadi penting juga supaya masyarakat tahu,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *