Journoliberta.com – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta kembali menggelar Jakarta Future Festival (JFF) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu (6/7). Dalam acara tersebut, masyarakat diajak memahami Jakarta dari aspek sejarah, ruang publik dan sains, sekaligus membahas masa depan kota Jakarta.

Perwakilan komunitas Historia Batavia, Sekar, mengatakan timnya ikut acara JFF dilatarbelakangi oleh pentingnya unsur sejarah dan budaya dalam perkembangan Jakarta. Melalui program bertajuk Jakarta Re:Play, mereka mengajak pengunjung menelusuri perjalanan Jakarta sebagai bahan refleksi untuk memahami berbagai persoalan kota saat ini.
“JFF merupakan acara tentang pembangunan kota Jakarta yang berangkat dari sejarah dan budaya. Sejarah menjadi pelajaran untuk memahami masa lalu dan merancang masa depan,” jelas Sekar saat diwawancarai di Teater Sjuman Djaja, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7).

Lebih lanjut, Sekar menilai sejarah Jakarta tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga membantu menjelaskan berbagai masalah yang dihadapi warga. Ia menuturkan bahwa pendekatan yang lebih ringan dipakai agar sejarah lebih mudah diterima generasi muda.
“Jakarta pada dasarnya merupakan wilayah perairan dan permasalahan banjir selalu dibahas, karena kota ini identik dengan air, kanal, dan sungai. Karena itu, sejarah lebih mudah dipahami remaja melalui pendekatan interaktif yang melibatkan peserta,” tambah Sekar.

Pengunjung JFF, Uswah, turut merasakan pengalaman berbeda usai mengikuti sesi lokakarya di Gedung Graha Bhakti Budaya. Melalui kegiatan tersebut, ia menyadari bahwa pembangunan kota tidak sebatas infrastruktur, tetapi menyangkut kehidupan warga.
“Di sini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh hanya fokus pada kepentingan pribadi. Kita diajak lebih peduli terhadap ruang publik sebagai tanggung jawab bersama,” ungkap Uswah saat diwawancarai di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7).

Uswah menilai Jakarta masih menghadapi tantangan untuk menuju kota global. Menurutnya, salah satu yang paling mendesak adalah pemerataan akses transportasi umum hingga ke kawasan permukiman.
“Saat ini transportasi umum seperti TransJakarta sudah cukup baik, tetapi jangkauannya masih perlu diperluas. Tantangan terbesar adalah kemudahan akses warga dari rumah ke stasiun atau halte,” ujar Uswah.

Uswah mengatakan kehadiran JFF tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga memfasilitasi masyarakat menyuarakan gagasan terkait tata kota. Melalui berbagai kegiatan partisipatif yang ditawarkan, warga didorong untuk berpartisipasi dalam membahas arah pembangunan Jakarta.
“Acara seperti JFF ini menjadi wadah yang tepat bagi masyarakat berpartisipasi dan berkontribusi terhadap pembangunan Jakarta,” pungkas Uswah.

