Islamic Movement Festival, Kupas Tantangan Anak Muda Terkini

Islamic Movement Festival oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid. Journo Liberta/Ghea Jean Hadi Savana.
Islamic Movement Festival oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid. Journo Liberta/Ghea Jean Hadi Savana.

Journoliberta.com – Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Jakarta menggelar Islamic Movement Festival (IMF) 2026 dengan tema “Rasulullah SAW: The Perfect Legacy” di aula Student Center UIN Jakarta, Senin (28/9). Melalui kajian Islami, talkshow, dan diskusi, IMF 2026 mengajak generasi muda memahami keteladanan Rasulullah SAW serta menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aspek sosial, finansial, dan profesional.

Ketua Pelaksana IMF 2026, Bani Rizki Arsyad Ahlibaet, mengatakan pembahasan IMF 2026 mencakup empat bidang, yaitu spiritual, sosial, finansial, dan profesional. Ia menjelaskan, pembagian tersebut digunakan untuk mengaitkan nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah SAW dengan berbagai sisi kehidupan mahasiswa.

Bacaan Lainnya

“Kita melihat di dinamika zaman sekarang ini, kita perlu contoh yang memang suri teladan terbaik. Maka kita melihat bagaimana Rasulullah itu perannya sebagai teman dalam aspek spiritual, sosial, finansial, dan profesional,” ujar Bani saat diwawancarai di aula Student Center UIN Jakarta, Senin (28/9).

Sejalan dengan itu, wirausahawan sosial, Edy Fajar Prasetyo, mengajak mahasiswa melakukan pemeriksaan keuangan dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran serta melihat kondisi keuangan secara berkala. Ia juga memperkenalkan formulasi sosial, investasi, aktivitas produktif, dan pokok (SIAP) dalam mengatur keuangan.

“Kalau di rumah sakit kan namanya medical check-up. Kita melakukan financial check-up ke Anda sendiri. Berapa pemasukannya dalam satu bulan? Ada formulasi SIAP. Sosial, investasi, aktivitas produktif, pokok,” jelas Edy dalam talkshow Rasulullah SAW: The Perfect Legacy, Senin (28/9).

Sementara itu, wirausahawan sosial, Aresdi Mahdi Asyathry, membahas enam pintu distraksi yang dapat mengalihkan mahasiswa dari tujuan, yakni kesenangan, makanan, film, fesyen, keuangan, dan fantasi. Ia mengaitkan bentuk distraksi tersebut dengan kebiasaan yang dekat dengan kehidupan anak muda, seperti media sosial, tontonan, gaya hidup, permainan daring, pinjaman daring, dan judi daring.

“Ada 6 hal yang membuat kita terdistraksi, Fun, Food, Film, Fashion, Finance, dan Fantasy. Distraksi itu adalah gangguan yang membuat kita tidak sampai ke tujuan kita hari ini. Tujuan kita cuma satu, masuk surga. Apa pun yang mendistraksi tujuan kita, kita hilangkan,” ujar Aresdi dalam talkshow IMF 2026, Senin (28/9).

Dari sisi peserta, Syifa Nurul Aini mengatakan, kegiatan tersebut membantunya memahami pengelolaan keuangan dan waktu sebagai mahasiswa, termasuk dalam membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia juga merasa terdorong untuk lebih menahan diri dari pengeluaran yang tidak diperlukan.

“Jadi di sini kita bisa mengatur keuangan kita, atur waktu kita. Membantu sekali untuk menahan diri untuk tidak terlalu tergiur,” tutur Syifa saat diwawancarai di aula Student Center UIN Jakarta, Senin (28/9).

Senada dengan pengalaman peserta, Bani berharap nilai yang disampaikan dalam IMF 2026 tidak berhenti pada pemahaman selama kegiatan IMF semata. Ia menyampaikan, menerapkan tersebut dapat dimulai melalui hal sederhana dalam kehidupan sosial dan profesional.

“Harapan kami adalah nilai-nilai yang memang Rasulullah ajarkan untuk umatnya itu bisa diterapkan oleh umatnya. Paling tidak hal kecil di diri mereka tentang sosialnya, profesional dan lain sebagainya,” tutup Bani.

 

(Artikel ini merupakan bagian dari media partner bersama LDK Syahid)

 

Penulis: Nabila Putri Ramadhanty

Editor: Lisda Dwi Nasywa

Pos terkait