Journoliberta.com – Himpunan Mahasiswa (HIMA) Pertambangan menggelar Seminar Nasional VARVA ke-10 bertema “Transforming Indonesia’s Mining Industry in the Energy Transition Era: Optimizing Production and Implementing Green Mining” di Auditorium Adia Convention Center, Kamis (22/10). Seminar ini membahas upaya meningkatkan produksi pertambangan sekaligus menerapkan praktik pertambangan ramah lingkungan di tengah transisi energi.
Ketua Pelaksana 10th VARVA HITAM 2026, Indah Dyah Rahmawati, mengatakan tema tersebut dipilih karena meningkatnya kebutuhan mineral untuk mendukung perkembangan energi terbarukan perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Ia menjelaskan, pembahasan seminar mencakup efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi modern, penerapan green mining, hingga kebijakan pemerintah yang memengaruhi industri pertambangan.
“Di satu sisi, kebutuhan terhadap sumber daya mineral seperti nikel, tembaga, dan bauksit semakin meningkat untuk mendukung perkembangan energi terbarukan. Tapi di sisi lain, kegiatan pertambangan juga harus tetap memperhatikan dampak lingkungan dan keberlanjutan,” ujar Indah saat diwawancarai melalui WhatsApp, Kamis (22/10).
Lebih lanjut, ia menjelaskan penerapan green mining masih menghadapi tantangan, mulai dari kesiapan teknologi hingga sumber daya manusia. Menurutnya, peningkatan produksi perlu dilakukan melalui proses yang lebih efisien agar penggunaan sumber daya optimal dan dampak terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
“Tantangan penerapannya dari kesiapan teknologi, sumber daya manusia, sampai perlunya komitmen dan kerja sama dari berbagai pihak. Karena itu, melalui seminar ini peserta bisa melihat bahwa produktivitas dan keberlanjutan lingkungan bukan dua hal yang harus dipertentangkan, tetapi bisa berjalan beriringan,” katanya.
Sementara itu, salah satu peserta seminar, Reysha, menilai kerusakan lahan dan lemahnya reklamasi pascatambang menjadi persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian. Menurutnya, lahan bekas tambang yang tidak dipulihkan dapat menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi, erosi, hingga pencemaran air yang berdampak pada masyarakat sekitar.
“Hal yang paling mendesak adalah kerusakan lahan dan lemahnya reklamasi pascatambang. Masalah ini berkaitan erat dengan pencemaran air, terutama air asam tambang dan sedimentasi sungai, serta pengelolaan limbah seperti tailing yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat sekitar dan berlangsung lama,” ujar Reysha saat diwawancarai melalui WhatsApp, Kamis (22/10).
Selain itu, Reysha mengatakan, seminar tersebut memberinya pemahaman bahwa green mining tidak hanya berkaitan dengan reklamasi setelah kegiatan pertambangan selesai, melainkan mencakup perencanaan, efisiensi produksi dan energi, serta pengelolaan limbah. Ia menilai perusahaan tambang dapat meningkatkan produksi melalui efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi, dan reklamasi secara bertahap selama kegiatan pertambangan berlangsung.
“Peningkatan produksi dapat dicapai lewat efisiensi, bukan sekadar perluasan area. Dengan cara ini, produksi per satuan lahan dan energi menjadi lebih tinggi, sementara jejak lingkungan tetap terkendali,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Indah berharap seminar ini dapat menambah wawasan mengenai pertambangan berkelanjutan dan mendorong mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi perkembangan industri. Ia juga berharap peserta memperoleh sudut pandang baru mengenai pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.
“Setelah seminar ini, harapan kami tentunya peserta bisa mendapatkan sudut pandang baru tentang bagaimana pertambangan ke depannya harus dijalankan. Lalu hal ini bisa menjadi langkah kecil untuk membangun kesadaran dan menghasilkan ide-ide yang aplikatif bagi industri pertambangan Indonesia,” tutupnya.
Penulis: Ratna Dewi Lubis
Editor: Muhammad Iqbal




