Journoliberta.com – Pembahasan mengenai childfree mulai banyak mencuat di ruang digital, khususnya kalangan Generasi Z. Oleh karena itu, Majelis Ilmuwan Muslimah (MIM) menyelenggarakan webinar sebagai tindak lanjut riset tentang fenomena tersebut melalui Zoom Meeting pada Minggu (25/5).
Webinar bertajuk “Gen Z dan Tantangan Budaya Global Childfree” membahas pilihan hidup tanpa anak yang memicu diskusi mengenai perubahan nilai sosial serta dampaknya terhadap cara pandang masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Wahidah memaparkan bahwa media sosial menjadi ruang utama pembentukan opini dan identitas di kalangan Gen Z.
Menurutnya, sebagian besar dari anak muda menjadikan media sosial sebagai rujukan utama untuk memahami isu childfree. Mereka lebih percaya pada pengalaman sesama pengguna yang dibagikan secara personal daripada narasi formal dari institusi.
“Sebanyak 69,1% Gen Z mencari informasi tentang childfree di media sosial. Jadi narasi yang mereka terima lebih banyak berasal dari TikTok atau Twitter (sekarang X), bukan guru atau orang tua,” ucap Wahidah dalam webinar pada Minggu (25/5).
Wahidah mengingatkan pentingnya literasi media agar Gen Z tidak terjebak dalam narasi tunggal yang tidak kritis. Ia menyebut perlu ada kampanye publik inklusif yang tidak memicu polarisasi, namun memberi ruang pertimbangan yang rasional dan berbasis data.
“Harus ada intervensi naratif yang sehat dan berbasis riset dari lembaga pendidikan maupun pemerintah seperti keterlibatan sekolah, kampus, dan komunitas dalam membangun budaya berpikir kritis agar pilihan childfree tidak semata jadi tren ikut-ikutan,” tuturnya.
Di sisi lain, Dosen Sosiologi UIN Jakarta, Ida Rosyidah melihat tren childfree sebagai bentuk resistensi terhadap tekanan sosial dan ekspektasi budaya tradisional. Menurutnya, perubahan nilai terkait pernikahan dan keluarga tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi, ketidakstabilan mental, serta pencarian makna hidup yang baru.
“Dulu menikah itu dianggap kewajiban, sekarang mulai dilihat sebagai beban termasuk punya anak. Ini bukan sekadar pilihan pribadi, tapi respon terhadap realitas sosial yang berubah,” ungkap Ida dalam webinar pada Minggu (25/5).
Ida menyoroti bahwa childfree juga muncul akibat pengalaman masa kecil yang pahit atau relasi yang disfungsional. Banyak anak muda yang merasa diabaikan oleh orang tua mereka sendiri, sehingga kehilangan motivasi untuk menjadi orang tua.
“Ini bukan sekadar menolak, tapi bentuk kehati-hatian generasi yang sadar akan tanggung jawab besar menjadi orang tua,” lanjutnya.
Sementara itu, Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Jakarta, Maila Dini menjelaskan, Islam memang tidak mewajibkan setiap pasangan untuk memiliki anak, namun mendorong umatnya untuk bersikap pro-natalis. Menurutnya, ajaran agama lebih menekankan pada nilai tanggung jawab dan keberlanjutan generasi.
“Dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang secara eksplisit mewajibkan punya anak. Tapi dalam hadis justru menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak keturunan,” jelas Maila dalam webinar, pada Minggu (25/5).
Maila menilai bahwa pergeseran makna terhadap pernikahan dan peran orang tua perlu disikapi dengan pendekatan edukatif dan reflektif. Ia menekankan pentingnya literasi nilai dan media di kalangan muda untuk memahami isu ini secara seimbang.
“Generasi Z itu sangat rasional. Dakwah dan pendidikan nilai harus bersifat dialogis dan kontekstual, bukan indoktrinatif,” pungkasnya.