Journoliberta.com – Museum Wayang Jakarta menggelar pertunjukan Wayang Orang Bali bertajuk Prahara Di Balik Takhta: Kisah Sumantri & Sukasrana, Minggu (25/5). Pagelaran ini menjadi bentuk perlawanan terhadap lunturnya tradisi dan minimnya paparan seni pertunjukan tradisional di kalangan generasi muda, terutama Generasi Z.
Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), Sumardi menyatakan, tujuan dari pagelaran ini tidak semata-mata sebagai hiburan, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya yang berkembang di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Khususnya kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).
“PEPADI sudah membentuk sanggar di lima wilayah sebagai wadah regenerasi. Kita punya generasi anak-anak, remaja, sampai dewasa yang masih aktif tampil, artinya kesinambungan tetap ada,” ujar Sumardi saat diwawancarai di Museum Wayang Jakarta, Minggu (25/5).
Berdasarkan keterangan Sumardi, antusiasme penonton terhadap pagelaran wayang masih tergolong tinggi. Museum Wayang Jakarta sebagai lokasi penyelenggaraan acara ini secara rutin mengadakan pertunjukan serupa sebagai bagian dari agendanya. Ia menyampaikan bahwa pihak museum berupaya menghadirkan pengalaman budaya yang hidup, agar pengunjung tidak hanya menyaksikan koleksi yang bersifat statis, tetapi juga dapat merasakan langsung dinamika seni pertunjukan tradisional.
“Supaya penonton itu tahu, ketika ada koleksi statis, ini juga ada pagelaran dinamisnya. Mereka jadi tidak hanya membayangkan dan melihat di YouTube saja, mereka bisa menyaksikan langsung,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung bernama Nabila menyampaikan kekagumannya terhadap pertunjukan tersebut. Ia menilai bahwa di era modern seperti saat ini, keberadaan pertunjukan tradisional sangat jarang ditemukan. Menurutnya, pertunjukan semacam ini memiliki peran penting sebagai media pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda.
“Wayang Orang Bali membentuk cinta budaya, identitas diri, dan membangun kreativitas. Terutama buat anak-anak, ini penting sekali,” ujar Nabila saat diwawancarai di Museum Wayang Jakarta, Minggu (25/5).
Nabila menegaskan bahwa pertunjukan seperti ini memiliki peran untuk membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap budaya lokal di tengah era digital seperti saat ini.
Ketua Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) Jakarta Barat, Nyoman Sutrisna, dalam sambutannya di Museum Wayang menekankan bahwa menjaga budaya merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali. Ia menyampaikan bahwa kecintaan masyarakat Bali terhadap budayanya menjadi alasan mengapa Bali dikenal di mata dunia.
“Karena kami orang Bali, kami mencintai budaya kami, karena budaya ini Bali dikenal oleh dunia,” ujar Nyoman Sutrisna dalam sambutannya di Museum Wayang Jakarta, Minggu (25/5).
Ia menambahkan bahwa setiap upacara adat Bali selalu disertai unsur seni seperti gamelan, yang menjadikan budaya dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
“Kami mempertahankan budaya kami karena setiap upacara adat yang kami jalani beriringan dengan budaya seperti penggunaan gamelan,” tambahnya.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan




