Berantas Hoaks di Hari Periksa Fakta Internasional

fake news facts
betanews.com
Masyarakat dari berbagai
belahan dunia mengenal satu April sebagai April
Mop
, hari dimana berbohong dan menyebarkan isu palsu dilakukan sebagai
lelucon semata. Kini kita akan mengenal tanggal dua April sebagai hari fakta,
lebih tepatnya International Fact-Checking Day. Memasuki perayaan yang ketiga,
International Fact-Checking Network (IFCN), lembaga yang mengumpulkan
pemeriksa fakta di seluruh dunia kembali mengadakan kegiatan tersebut untuk memperkuat
sumber informasi yang dapat digunakan masyarakat dunia dari berbagai usia untuk
mensortir fakta dari fiksi.

Hadirnya perayaan Hari Periksa
Fakta Internasional ini bukan tanpa alasan, seperti Barbay Orsek selaku direktur baru
IFCN menjelaskan di laman Poynter pada (02/04/2019). Menurutnya, dalam
masyarakat yang saling terhubung lewat media komunikasi saat ini, kesalahan
informasi tidak memiliki batasan. Adanya konspirasi daring yang memancing
konflik di India dan Brazil serta berita palsu terkait pemilihan di Amerika dan
Serikat Eropa (EU) menjadi contoh di beberapa negara yang terkena dampak berita
hoax.

Dengan dampak hoaks yang terasa di dunia salah
satunya Indonesia, maka pemeriksa fakta atau yang disebut Fact-Checker sangat dibutuhkan di seluruh negara. Namun, pemeriksa
fakta tidak dapat melakukan pengecekan sendiri, terlebih dengan penyebaran
berita palsu yang cepat lewat internet. Untuk itu diperlukan cara untuk
mengajarkan masyarakat untuk mengerti cara membedakan hoaks dan fakta.

Maka dari itu IFCN sebagai
lembaga di bawah naungan Poynter Institute, sebuah sekolah kejurnalistikan
non-profit dari Florida, Amerika Serikat, menciptakan hari pemeriksaan fakta
tiap dua April. Bila April Mop yang
diadakan tiap satu April didedikasian untuk bercanda lewat berita palsu, dua April
didedikasian untuk fakta dan kebenaran informasi. Sejak pertama kali dirayakan
pada 2017, World Fact-Checker Day
hadir dengan tujuan mengajarkan masyarakat metode dan alat yang digunakan
pencari fakta sehingga lebih jeli dalam memilih dan memilah berita.  

Hari Pengecekan Fakta Internasional adalah tentang mengajarkan alat dan
metode yang digunakan pemeriksa fakta untuk memperjuangkan kebenaran kepada
masyarakat sehingga mereka bisa menjadi konsumen informasi yang lebih kritis
,”
ujar Orsek dalam website www.poynter.org.

Untuk merayakan sekaligus
memberikan edukasi pada masyarakat terkait International
Fact-Checking Day
, IFCN menghadirkan website FactCheckingDay.com. Situs
yang diklaim bekerja sama dengan dengan lembaga-lembaga pemeriksa fakta di
seluruh dunia ini dibentuk atas keyakian memeriksa fakta tidak hanya dilakukan
profesional, namun bisa dari segala kalangan. Dalam situs tersebut dihadirkan
artikel serta dalam menghadapi dan mengidentifikasi antara hoaks dan fakta.
Selain artilkel pengunjung muda khususnya pelajar dapat mengasah pikiran lewat
berbagai kuis seperti menebak “mana yang palsu”.

Meski dibuka untuk umum, FactCheckingDay.com
sangat diarahkan pendidik yang akan mengajarkan pada murid tentang pentingnya World
Fact-Checking Day
dan verifikasi isu. Lewat pilihan EduCheckMap,
laman daring mungil guru dapat mengunduh rencana pelajaran dalam empat bahasa
dan terhubung dengan pemeriksa fakta. Diterbitkan oleh Chequeado, minisite
tersebut memetakan sebanyak 170 sumber daya dalam 15 bahasa dari 57 platform
aktif terkait pengecekan fakta.

Tujuan dari pengadaan EduCheckMap
adalah untuk menampilkan sejumlah besar upaya dalam pendidikan tentang
pengecekan fakta di seluruh dunia dan membaginya dengan pendidik. Cristina
Tardáguila selaku direktur rekanan IFCN, senada dengan perkataan Orsek
mengatakan pemeriksa fakta tak dapat menyelesaikan masalah kesalahan informasi
sendirian. Dirinya menjelaskan, hadirnya miniweb tersebut dapat
mendemonstrasikan pada pengajar banyaknya fack-checker diseluruh dunia
yang siap membantu dan bekerja sama dalam mendidik generasi muda menjadi
pengecek fakta.

EduCheckMap menunjukkan bahwa ada pemeriksa fakta di
seluruh dunia yang siap dan bersedia bekerja dengan pendidik untuk mengajar
generasi berikutnya menjadi pemeriksa fakta mereka sendiri.
” terangnya dikutip
dari
hoax-alert.leadstories.com

Dengan maraknya kasus
hoaks yang menimpa Indonesia, makan pantas bila World Fact-Checking yang digaungkan Poynter dan IFCN berambisi
menjangkau masyarakat di tiap negara. Terpaan berita bohong dan manipulasi
berita yang hadir di berbagai media, khususnya internet menjadi catatan penting
betapa lemahnya masyarakat dalam mengidentifikasi fakta. Bila saja masyarakat,
khususnya kaum muda mau membantu dan berkontribusi dalam pencarian fakta
berita, mungkin saja konflik yang terjadi, khususnya pada tahun politik saat
ini dapat dihindarkan.



(Bismar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *