| Ilustrasi: Siti Hasanah Gustiyani |
JOURNOLIBERTA.COM – Sudah 75 tahun sejak
masyarakat Bandung membakar habis kotanya pada 24 Maret 1946 yang dikenal
dengan istilah Bandung Lautan Api. Peristiwa tersebut merupakan salah satu
peristiwa heroik dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, yang mana pada saat
itu membakar kota Bandung dianggap menjadi strategi yang jitu untuk melawan
para sekutu demi mempertahankan kemerdekaan Repulik Indonesia.
Peristiwa Bandung Lautan
Api dilatarbelakangi oleh desakan Kolonel Mac Donald, seorang panglima pasukan
sekutu AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Ia membagi kota
Bandung menjadi dua wilayah, yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan.
Singkat cerita, Mac Donald
memberikan ultimatum kepada masyarakat Indonesia di Bandung Utara termasuk
pasukan bersenjata untuk pindah ke selatan. Apabila terdapat warga pribumi yang
masih bertahan di sana, akan ditangkap atau bahkan ditembak mati oleh tentara
sekutu.
Namun, hal tersebut tidak
membuat masyarakat Bandung takut dan memilih untuk menghiraukan peringatan
tersebut. Alhasil, pertempuran antara masyarakat Bandung dengan tentara Inggris
tidak dapat dihindarkan hingga terjadi lah pertempuran besar di Desa
Dayeuhkolot, yang merupakan gudang amunisi terbesar milik Tentara Sekutu.
Pimpinan Kolonel A.H.
Nasution selaku Komandan Divisi III TRI (Sebutan TNI pada masa itu) memutuskan untuk melakukan operasi “Bumi
Hangus”. Hal tersebut dilakukan karena seluruh Masyarakat Bandung tidak rela
apabila fasilitas logistik dan fasilitas lainnya dipergunakan dan dimanfaatkan
oleh tentara sekutu dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
Selain itu, tidak
seimbangnya kekuatan pasukan TRI dan masyarakat Bandung dengan pasukan musuh
yang sangat banyak menjadi alasan mengapa operasi “Bumi Hangus” disepakati dan
dianggap sebagai langkah yang strategis dalam mengusir penjajah. Pada 23 Maret
1946, Kolonel A.H. Nasution mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan meminta
masyarakat untuk meninggalkan kota Bandung.
Pengosongan kota dilakukan
bersamaan dengan pembakaran kota Bandung, yang mana masyarakat dan para pejuang
mulai membakar rumah dan fasilitas lainnya dengan tujuan agar tentara sekutu
dan NICA tidak dapat memanfaatkannya untuk dijadikan markas strategis.
Dikutip dari situs
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, berdasarkan rencana, operasi “Bumi Hangus” ini
akan dilakukan pada tanggal 23 Maret tengah malam. Pembumihangusan justru telah
dilaksanakan sekitar pukul 21:00 WIB, lebih cepat dari yang direncanakan.
Gedung yang pertama kali
diledakkan ialah Bank Rakyat. Disusul dengan pembakaran tempat-tempat lainnya seperti
Banceuy, Cicadas, Braga dan Tegalega. Pada kurun waktu 7 jam, Bandung berhasil menjadi
kota tidak berpenghuni serta kobaran api dan penuh asap hitam yang mengepul di
udara membuat peristiwa tersebut dijuluki sebagai peristiwa “Bandung Lautan Api”.
Penulis: Savira Agustin
Editor: Johan
Referensi
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/peristiwa-bandung-lautan-api/
https://www.kompas.tv/article/157596/sejarah-tak-terlupakan-23-maret-1946-bandung-jadi-lautan-api?page=all
https://id.wikipedia.org/wiki/Bandung_Lautan_Api
https://www.merdeka.com/jateng/peristiwa-23-maret-bandung-lautan-api-ketahui-penyebab-dan-kronologinya-kln.html?page=all
