E-Semesta Resmi Diterapkan pada Maba 2024, Mahasiswa Lama Tetap Gunakan AIS

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta resmi mengalihkan Academic Information System (AIS) menjadi Elektronik Sistem Manajemen Terpadu Perguruan Tinggi Agama (E-Semesta). Peralihan sistem ini telah diterapkan pada mahasiswa baru tahun akademik 2024/2025.

Koordinator Data dan Informasi Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustipanda) UIN Jakarta, Abdullah, menjelaskan E-Semesta hanya diterapkan untuk mahasiswa baru 2024/2025 dan seterusnya. Sementara AIS akan dituntaskan untuk mahasiswa tahun sebelumnya.

“Setelah kita kaji kemarin dan arahan dari pimpinan akan ada dua sistem paralel. Jadi, mahasiswa lama menggunakan AIS walaupun memang kemarin ada yang mengulang itu pakai E-Semesta. Sementara E-Semesta itu hanya untuk mahasiswa baru 2024 dan seterusnya,” jelas Abdullah di Kantor Pustipanda UIN Jakarta, Jumat (17/1).

Lebih jelas, Abdullah menerangkan terdapat berbagai modul aplikasi di E-Semesta yang sebelumnya tidak ada dalam AIS. Ia menyebut pemecahan modul-modul aplikasi di E-Semesta meminimalisir adanya gangguan server.

“Pertama itu kita memecah modul-modul aplikasi yang sebelumnya di AIS jadi satu, numpuk. Di E-Semesta itu ada modul adminisi, modul keuangan, modul beasiswa, dan sebagainya. Kalaupun misalnya nanti ada gangguan di modul, itu tidak mengganggu modul yang lain,” lanjutnya.

Abdullah kembali menjelaskan peluncuran E-Semesta merupakan hasil kerja sama dengan PT Solusi Kampus Indonesia (SKI) dari Universitas Gajah Mada (UGM). Namun, ia menegaskan meski bekerja sama dengan pihak luar, UIN Jakarta tetap menjunjung tinggi independensi.

“Kita kerja sama dengan PT SKI dari UGM. Tapi bukan berarti kita bergantung pada pihak luar. Kita sudah ada kontrak kerja sama dan nanti aplikasi itu juga bisa kita kembangkan,” jelasnya kembali.

Di sisi lain, Dosen Dasar Pemrograman UIN Jakarta, Imam Marzuki Shofi, mengaku belum memanfaatkan fitur-fitur di E-Semesta secara optimal. Ia menuturkan hanya memanfaatkan fitur untuk input nilai dan fitur penugasan.

“Sebagai dosen, saya baru memanfaatkan untuk input nilai sama ngasih tugas mahasiswa. Yang lain belum memanfaatkan, misalnya untuk absensi karena ternyata masih ada beberapa bug, ketika mau absen enggak bisa,” kata Imam dalam sambungan telepon, Senin (20/1).

Di samping itu, Imam juga pernah mengalami kendala saat nilai yang ia input secara langsung tidak tersimpan. Namun, ia menilai hal itu wajar karena E-Semesta masih dalam masa percobaan.

“Barangkali karena koneksi internet atau lainnya. Saya sudah input nilai yang banyak dan lengkap, oh ternyata belum tersimpan. E-Semesta masih baru, dan mungkin masih masa uji coba. Secara umum memang masih perlu banyak yang dikembangkan di E-Semesta,” pungkasnya.

Sementara itu, Mahasiswa Jurnalistik semester 1, Sandrian Rahman, mengeluhkan tampilan situs web E-Semesta yang cukup membingungkan. Selain itu, ia juga sering mengalami server down saat mengakses situs E-Semesta.

“Karena tampilan webnya cukup bikin bingung terus juga kalo kita cari yang ini pencet di mana? Yang pasti jangan nge-down mulu, lebih siap secara server. Dan itu sih semoga lebih cepat ngasih informasi gitu,” ujar Sandrian di Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDIKOM), Kamis (16/1).

Namun di satu sisi, Sandrian mengatakan E-Semesta memiliki fitur yang banyak. Akan tetapi, sejauh ini ia hanya menggunakan E-Semesta untuk cek Kartu Rencana Studi (KRS), status pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan nilai perkuliahan.

“Sebenernya fiturnya ada banyak, tapi yang sering kita pake itu cuma cek KRS, cek dosen, cek bayar UKT, dan cek nilai,” ujarnya.

Masih di tempat yang sama, Mahasisiwi Jurnalistik semester 3, Dhea Maudia, mengatakan bahwa ia telah mendapat kabar mengenai peralihan AIS ke situs baru. Namun, ia tidak mendengar informasi jelas mengenai identitas situsnya.

“Jadi awalnya kita disosialisasikan sama Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) ya pas pertama masuk tuh. Terus abis dijelasin tentang AIS, ada pihak dari HMPS itu nyeletuk kalo misalkan AIS itu mau diubah ke web baru. Tapi belum diinformasikan nama webnya apa,” jelas Dhea, Kamis (16/1).

Adapun hingga saat ini Dhea masih menggunakan AIS untuk membantu administrasi akademiknya. Namun, ia menilai sistem AIS sering bermasalah, sehingga cukup menghambat proses akademiknya.

“Kalo untuk websitenya (AIS) kadang emang sering lemot. Waktu itu lagi milih mata kuliah, kita kan war ya sama kelas lain. Di situ tiba-tiba servernya down,” jelas Dhea.

Menanggapi soal kendala server, Abdullah menjelaskan bahwa masalah server down disebabkan oleh manajemen akses AIS yang belum Single Sign-On (SSO). Selain itu, ia juga menyebut peluncuran AIS tidak mengacu pada standar Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).

“AIS memang pada saat dilaunching-kan dia tidak mengacu standar PDDikti dengan kondisi aplikasi yang off solid, kurang user friendly, modul-modul aplikasi tidak dipecahkan, berat, terus belum SSO,” tandasnya.

Pos terkait