Journoliberta.com – Pameran Freedom Unleashed Youth Artssembly yang diinisiasi oleh 2030 Youth Force Indonesia telah digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu 22 Maret lalu. Pameran ini memiliki tujuan meningkatkan kesadaran pemuda mengenai kebebasan berekspresi dan hak berkumpul secara damai. Acara ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyuarakan aspirasi mereka melalui seni dan kreativitas.
Salah satu perwakilan dari 2030 Youth Force Indonesia, Aida Awwaaba mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan lebih banyak pemuda agar mereka dapat menggunakan hak berekspresi dan berkumpul dengan aman dan bertanggung jawab.
“Kami ingin membuka ruang bagi anak muda untuk bersuara dan berpendapat, serta menunjukkan bahwa kebebasan sipil bukan hanya milik orang dewasa, tetapi juga hak setiap individu,” ujar Aidia Awwaaba saat diwawancarai di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (22/3).
Berbagai pihak turut terlibat dalam acara ini, termasuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Amnesty International Indonesia, dan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat advokasi kebebasan berekspresi dan memastikan bahwa perjuangan ini tidak berhenti setelah acara berakhir.
“Kami juga mengadakan kampanye digital serta mendokumentasikan karya seni ini agar bisa diakses oleh lebih banyak orang di seluruh Indonesia,” ucap Aidia lebih lanjut.
Pameran ini mendapat sambutan positif dari para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, terutama para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM), aktivis lingkungan, serta komunitas gender dan pendidikan. Salah seorang pengunjung yang fokus pada isu kebebasan berekspresi dan HAM, Ahmad Fauzan, menilai bahwa acara ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya keterbukaan dalam menyuarakan pendapat.
“Acara seperti ini membuka perspektif kita bahwa kebebasan berekspresi adalah bagian dari HAM yang harus diperjuangkan,” ucap Ahmad Fauzan, Sabtu (22/3).
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam acara ini adalah penggunaan seni sebagai alat advokasi. Pegiat HAM, Fatia Maulidiyanti mengungkapkan, pesan-pesan mengenai hak sipil dalam pameran ini disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.
“Seni memiliki kekuatan untuk menggerakkan orang dan menyampaikan pesan dengan cara yang lebih emosional dan mendalam,” ujar Fatia Maulidiyanti, Sabtu (22/3).
Dalam menyukseskan penyelenggaraan acara ini, Aidia mengaku dihadapkan dengan sejumlah tantangan. Walau begitu, pihak 2030 Youth Force Indonesia berencana untuk terus mengadakan acara serupa guna memperluas jangkauan kampanye kebebasan berekspresi bagi pemuda.
“Masih ada pandangan bahwa isu HAM hanya diperuntukkan bagi segelintir orang. Padahal, ini adalah isu yang relevan bagi semua generasi. Kami ingin mendorong lebih banyak anak muda untuk berani menyuarakan pendapat mereka dengan cara yang bertanggung jawab” pungkas Aidia.
