Journoliberta.com – Kampung Dolan Khatulistiwa mengadakan kegiatan pengenalan permainan tradisional untuk anak-anak di Kampung Dadap, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (24/7). Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali budaya permainan tradisional sekaligus mengedukasi generasi muda akan pentingnya mengenal permainan tradisional yang semakin tersisih oleh kehadiran permainan modern.
Kepala Departemen Corporate Social Responsibility (CSR) Sinar Mas Land, Teguh Asmi Pamungkas, menyatakan motivasi utama dalam memulai inisiatif perkenalan permainan tradisional ini adalah untuk mengembangkan potensi wilayah Kampung Dadap sesuai dengan karakteristiknya.
“Di wilayah Kampung Dadap ini kita lihat potensinya cocok untuk dikembangkan berfokus ke arah permainan tradisional. Permainan tradisional ini wahana tempat berkumpulnya adik-adik dan anak-anak di wilayah kampung sekitar,” jelasnya saat diwawancarai di Kampung Dadap, Tangerang Selatan, Rabu (24/7).
Teguh juga menyampaikan bahwa anak-anak dan orang tua memberikan respons positif terhadap kegiatan ini. Mereka secara rutin bermain bersama di Kampung Dolanan.
“Mereka senang bisa bermain bersama dengan peralatan-peralatan yang kita sediakan. Ini menarik karena mereka sebelumnya gak punya kebiasaan main permainan tradisional. Dengan adanya permainan tradisional ini, mereka secara rutin bermain bersama. Bahkan mereka bilang mau main bersama tiap hari,” lanjutnya.
Sependapat dengan Teguh, Guru MI Nurul Falah Rawa Mekar Jaya, Dina, turut menyambut baik inisiatif ini.
“Alhamdulillah, jujur senang banget, karena fenomena sekarang ini anak-anak megangnya gadget dan game online. Kalau kita tanya permainan online, mereka pasti bisa menyebutkan. Sedangkan kalau kita tanya permainan tradisional, mereka kesusahan menjawabnya. Kegiatan di Kampung Dolanan ini menumbukkan lagi semangat dan pengetahuan kalau anak-anak belum tau bahwa di sekitar mereka hal-hal yang sederhana aja bisa dijadikan permainan,” ujarnya saat diwawancarai di Kampung Dadap, Tangerang Selatan, Rabu (24/7).

Berbagai jenis permainan tradisional diperkenalkan dalam kegiatan ini, seperti congklak, egrang, bakiak panjang, serta workshop pembuatan wayang dari batang daun singkong dan keris dari janur kelapa. Selain itu, ada juga permainan-permainan non-alat seperti gerobak sodor.
Murid MI Nurul Falah, Abrisyam, menyampaikan bahwa kegiatan ini menyenangkan karena dimainkan bersama teman-teman, hal ini berbeda dengan kebiasaannya bermain permainan online di rumah.
“Seru karena mainnya bersama, kalo di rumah lebih sering main game di HP aja,” ucapnya, Rabu (24/7).
Setuju dengan Abrisyam, salah seorang murid MI Nurul Falah, Evan, juga menyampaikan kegembiraannya bermain permainan tradisional di Kampung Dolan.
“Mau main terus karena seru. Game di HP mainnya bisa bareng, tapi serunya beda sama main bareng permainan tradisional,” ungkapnya, Rabu (24/7).

Dina juga melihat perubahan positif pada anak-anak setelah mengikuti kegiatan ini.
“Biasanya mereka pegang HP masing-masing kalau lagi main. Tapi ketika belajar membuat wayang, tumbuh rasa kerja sama dengan kelompok, rasa peduli ke teman, mana yang belum selesai, mana yang harus dibantu. Jadi ada rasa kekompakan dan kebersamaan,” tegasnya.
Dina berharap kegiatan ini dapat menjadi program jangka panjang dan dapat diterapkan di seluruh sekolah di Tangerang Selatan, bahkan seluruh Indonesia.
“Kegiatan ini sangat positif buat anak-anak didik kami. Semoga setelah ini anak-anak nggak langsung main gadget lagi dan bisa menceritakan serta mempraktikkannya ke orang tua, adik-adik, dan teman-teman di lingkungan rumahnya,” ujarnya.

Sementara itu, Teguh menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya tentang permainan, tetapi juga tentang melatih anak-anak untuk hidup kolektif dan bersosialisasi.
“Meskipun kelihatannya cuma permainan tradisional, tapi mereka diasah untuk berlatih hidup kolektif. Karena kita ini kan makhluk sosial, bukan hanya makhluk individu. Harapannya apa yang kita tanam ini bisa menumbuhkan mereka menjadi generasi yang lebih baik ke depannya. Generasinya kenapa dikatakan bisa lebih baik, karena sejak kecil mereka diasah untuk berdinamika bersama,” jelasnya.
Inisiatif ini diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi anak-anak serta masyarakat setempat, menjaga warisan budaya, dan mengembangkan karakter generasi muda di era digital.
“Adanya permainan-permainan yang bisa diakses bersama ini menjadi pelatihan dan terapi bagi mereka, supaya hidup itu bukan hanya bermain HP dan juga individual, tapi juga bersosialisasi,” ungkap Dina lebih lanjut.