| Ilustrasi: literasinusantara.com |
JOURNOLIBERTA.COM
– Hasil analisis Forest Watch Indonesia
(FWI) menunjukkan deforestasi (penebangan hutan) pada periode 2013-2017 diperkirakan mencapai
angka kurang lebih 5,7 juta hektare atau sekitar 1,46 juta hektare per tahun. Hal
ini bisa saja setiap tahun mengalami kenaikan angka. Terdapat dua penyebab jumlah lahan hutan yang berkurang, yaitu
penyebab langsung dan penyebab tidak
langsung.
Penyebab langsung
disebabkan oleh konversi alam menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman
industri, aktivitas hak untuk mengusahakan hutan (HPH), pertambangan, dan
sebagainya. Sedangkan penyebab tidak langsung deforestasi biasanya berkaitan dengan kebijakan
seperti izin, tata ruang, proyek nasional, swasembada pangan, dan lain-lain.
Menurut pegiat lingkungan Forest Watch
Indonesia Pardi Pay, upaya
dalam memulihkan deforestasi dapat melalui berbagai cara, seperti lewat kebijakan
perlindungan hutan yang terdiri dari Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Konsep High Conservation Value (HCV), Penetapan
Hak Guna Usaha (HGU), izin usaha,
masterplan, hingga moratorium.
“Bisa
juga melalui berbagai aksi,
seperti aksi kolektif, rehabilitasi, rencana
Pembangunan Rendah Karbon
(Low Carbon Development Indonesia), skema Perhutanan Sosial (Perhutsos), Tanah Objektif Reforma Agraria (TORA), penetapan
wilayah hutan adat, serta
Road Map Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RAD MAPI),” ujar Pardi kepada reporter Journo Liberta, pada Sabtu (20/3/2021)
Berkurangnya
lahan di hutan bisa menimbulkan
perubahan iklim hingga level yang sangat ekstrim. Untuk
mengurangi dampak tersebut, masyarakat dapat berperan menjaga kualitas udara
mulai dari hal terkecil, seperti berkebun di rumah. Apalagi saat ini tren berkebun di rumah
semakin digandrungi masyarakat. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rita, seorang ibu
rumah tangga yang sudah berkebun sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
“Sebelum
pandemi juga sudah nanem-nanem, ngapain
ngikutin tren? Toh kita juga yang
merasakan manfaatnya. Misalnya saja pohon mangga, membuat udara di rumah juga
jadi sejuk terus juga kan buahnya bisa dimakan juga,” ungkapnya saat
dihubungi melalui WhatsApp,
Jumat (19/3/2021).
Selain
menanam pohon manggga, Rita juga menanam
tumbuh-tumbuhan lainnya yang kaya akan manfaat, seperti pohon pandan dan pohon belimbing wuluh. Ibu dari tiga anak ini berusaha memaksimalkan lahan rumahnya untuk kegiatan menanam agar udara di rumahnya tetap sejuk.
“Pandan dapat
diambil daunnya bisa dipakai masak, belimbing wuluh juga bisa dipakai untuk
masak. Lalu tanaman hias dapat mempercantik rumah.” ungkapnya.
Penulis: Ridho Hatmanto dan Safira Salsabilla
Editor: Johan
