Pengajar dan Murid Harus Kembali ke Aturan yang Berlaku

Untitled 1

Kekerasan di dunia pendidikan masih sering terjadi di negeri
ini. Seakan tak mau hilang, angka kekerasan justru selalu meningkat tiap
tahunnya. Lembaga pendidikan yang semestinya menjadi tempat nyaman untuk belajar
malah menjadi tempat yang mengerikan.

Kekacauan ini menjadi ancaman serius bagi generasi penerus
bangsa. Kekerasan yang dialami anak akan memberikan trauma yang membekas. Jika
tidak ditangani dengan benar, sisi psikologi anak akan terganggu sehingga terganggu
pula proses belajarnya.

Dalam perspektif psikologi, yang disebut kekerasan
adalah suatu perbuatan yang menyebabkan orang lain tersakiti, baik fisik maupun
mentalnya,” ujar Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Netty Hartaty saat ditemui reporter LPM
Journo Liberta, Robby, di Ciputat, Kamis (9/3/2017). Berikut kutipan
wawancaranya.

Akhir-akhir ini kekerasan di dunia pendidikan sering terjadi, apa penyebabnya?

Kita harus samakan persepsi ya, apa yang dimaksud dengan
kekerasan. Kekerasan itu suatu perbuatan yang bisa menyebabkan orang lain
tersakiti. Dan jika diangkat ke kekerasan dalam pendidikan, kita perlu tahu apa
sih yang tejadi sehingga kita mengatakan itu kekerasan dalam pendidikan.

Persepsi
apa yang salah tentang kekerasan dalam pendidikan?

Kalau umpamanya guru memarahi anak muridnya, menegur muridnya
karena berbuat salah itu dianggap sebagai kekerasan, itu perlu juga kita
klarifikasi.

Bagaimana seharusnya cara seorang pengajar menegur muridnya?

Kalau benar-benar seorang guru dia tidak mungkin melakukan
perbuatan yang akan mencederai anak didiknya. Yang namanya manusia kan punya
kekurangan dan keterbatasan sehingga dia tidak mampu lagi mengendalikan
emosinya, akhirnya dia melakukan perbuatan yang bisa menjadikan anak didiknya
tersakit, seperti mencubit atau menendang, memukul.

Kembali lagi ke aturan yang ada, apa yang harus dilakukan untuk guru mendidik anaknya, apa yang harus dikerjakan murid dalam belajar. Kalau toh terjadi ketidakmampuan manusia menahan emosi marah, dalam agama kita kan juga ada petunjuk kalau kita marah, dari berdiri duduk, sampai kalau marahnya tidak bisa berhenti juga apa yang harus kita lakukan? Berwudhu itu yang kita lakukan.

Jadi kita harus bisa menurunkan atau memanage emosi sehingga dia tidak bisa meledak sehingga menyebabkan orang lain tersakiti.

Kasus yang
terjadi tidak melulu tentang guru yang memukul murid tetapi juga sebaliknya, fenomena baru?

Seperti kemarin kan ada peristiwa guru memukul anaknya
sehingga orang tua melapor ke polisi. Nah kalau perilaku itu dilakukan oleh
guru itu memang tidak wajar. Namanya anak tentu saja dia memiliki keterbatasan
dalam penyesuaian diri apa yang harus dia lakukan, apa yang benar dia kerjakan,
apa yang tidak boleh dia kerjakan. Keterbatasan dia tentang hal itu
kadang-kadang juga menyebabkan guru tidak paham sehingga dia melakukan tindakan
yang di luar batas, sehingga menyakiti si anak, itu memang tidak diperkenankan.

Kalau toh anak itu salah tidak harus dengan tindakan yang menyebabkan dia
tersakiti. Begitu juga sebaliknya murid kepada gurunya, seperti kasus yang
terjadi di Medan sampai dia membunuh dosennya karena ada perbedaan pendapat
mahasiswa ini sebagai anak bimbingan skripsinya dengan dosen tadi.

Nah, sebenarnya itu tindakan yang tidak diperkenankan terjadi dalam dunia
pendidikan, karena yang namanya pendidikan adalah proses mendidik anak menjadi
orang yang baik. Tentu saja mendidik anak menjadi orang yang baik butuh
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh dosen adalah tindakan yang sesuai dengan
aturan-aturan yang ada.

Kita punya aturan dalam dunia pendidikan, apa yang boleh
dilakukan oleh guru, apa yang boleh dilakukan dosen, begitu pula sebaliknya apa
yang harus dilakukan oleh siswa atau mahasiswa. Kalau kita melakukan itu tidak
akan terjadi kekerasan.

Apakah
perkembangan teknologi memengaruhi?

Jelas itu dampaknya terhadap perilaku, yang tadinya murid itu
sopan kepada gurunya, sekarang setelah ada media lain selain dari guru itu bisa
menyebabkan anak itu tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan gurunya. Itu
dampak negatif dari media yang mempengaruhi perilaku. Apalagi kalau yang
bersangkuatan tidak memahami nilai-nilai yang sudah ditetapkan oleh masyarakat.

Bagaimana
dengan peran keluarga?

Harusnya orang tua ikut andil, artinya dia juga terlibat
dalam mendidik anak, karena pendidikan anak bukan saja tanggung jawab sekolah.
Oleh sebab itu kalau toh anaknya melakukan satu perbuatan yang disalahkan oleh
guru, orang tua jangan cepat emosi. Dia harus introspeksi, dia harus mengkaji
apakah guru marah karena anaknya tersebut. Kalau toh terjadi kemarahan yang
melewati batas, orang tua boleh melapor. Yang jelas di sini orang tua harus
terlibat.

Belakangan
sering terjadi orang tua yang “lepas tangan” setelah menitipkan anaknya ke
lembaga pendidikan. Mengapa?

Kenapa hal itu terjadi? Karena orang tua merasa ia sudah
membayar ke sekolah, artinya tanggung jawab dia untuk mendidik anaknya
dibebankan kesekolah. Anak di dalam kehidupannya perilakunya tidak hanya
dipengaruhi oleh sekolah. Keluarga pun juga harus terlibat.
  Jangan diserahkan 100 persen kepada
sekolahnya, kasihan sekolahnya.


(Robby Maulana)

Baca Juga : Melihat Penyebab Kekerasan di Dunia Pendidikan

Pos terkait