JOURNOLIBERTA.COM – Pengelolaan parkir dan keamanan kampus di UIN Jakarta menjadi permasalahan yang sering dialami mahasiswa. Masalah tarif parkir yang kerap berubah-ubah hingga kasus kehilangan barang belum menemui titik terang.
Mahasiswa dikenakan tarif parkir sebesar Rp1.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp4.000 untuk kendaraan roda empat. Namun, jika menggunakan e-money, banyak mahasiswa yang tidak sadar bahwa saldonya telah terpotong lebih dari tarif yang dikenakan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pengelola Parkir Kampus 1, Adi menjelaskan bahwa jika mahasiswa belum mendaftarkan kartu e-money ke Kantor Pengelola, maka akan dikenakan tarif umum.
“Terkait kartu e-money, yang dikenakan itu tarif umum yakni Rp2.000. Kalau mau mendapatkan tarif mahasiswa sebesar Rp1.000, maka kartu e-money harus register ke kantor pengelola parkir,” ujar Adi, Jumat (15/12/2023).
Tarif umum juga dikenakan jika sedang diselenggarakan acara besar seperti wisuda. Hal ini kerap menimbulkan perspektif bahwa tarif parkir sengaja dinaikkan. Adi menyanggah persoalan tersebut sebab wisuda merupakan acara yang mengundang tamu selain mahasiswa, sehingga wajar bila dikenakan tarif umum.
“Dalam konteks ini, wisuda itu termasuk dalam event di mana banyak tamu yang bukan mahasiswa berdatangan. Mereka dikenakan tarif umum sesuai regulasi kontrak kita, jadi bukan dinaikkan. Untuk mobil jam pertama dikenakan sebesar Rp5.000 sedangkan motor dikenakan Rp3.000 di jam pertama dan Rp2.000 di jam berikutnya,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Adi mengatakan, tarif parkir di UIN Jakarta sudah sangat rendah jika dibandingkan dengan peraturan Kota Tangerang Selatan. Bahkan menurutnya, tarif yang sekarang berlaku sudah tidak layak dan harus segera direvisi.
“Kalau mengikuti Peraturan Walikota Tangerang Selatan, segmen kampus itu tarif (parkir) nya Rp 3.000. Kami harus membayar retribusi ke Tangsel, sehingga tarif parkir seharusnya sudah direvisi karena tarif Rp 1.000 itu sudah tidak layak,” ungkapnya.
Dengan adanya tarif parkir, mahasiswa mengharapkan terjaminnya keamanan ketika memarkirkan kendaraannya selama masa perkuliahan berlangsung. Namun, rupanya masih banyak kasus kehilangan barang yang kerap dialami oleh mahasiswa.
Mahasiswi Jurnalistik semester 3, Tanza Julia Damalita mengaku pernah kehilangan helm saat tengah memarkirkan kendaraannya di Gedung Parkir Perpustakaan Lantai 2.
“Helmnya sempet hilang di parkir gedung, udah ketemu beberapa hari kemudian, ditemuin sama kakak tingkat di Sekretariat Jurnal. Semoga kedepannya bisa lebih ketat lagi keamanan dan kebersihannya,” ucapnya pada Rabu (13/12/2023).
Terkait keamanan di lahan parkir, Adi lepas tangan dan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab pihak security kampus. Pengelola parkir hanya menyediakan solusi seperti tempat penitipan helm di Gedung Parkir Perpustakaan Lantai 2.
“Kami dididik dan dilatih untuk mengelola parkir, sementara mereka (pihak security) dididik dan dilatih untuk keamanan. Tupoksinya sudah berbeda. Jika ada mahasiswa yang kehilangan barang contohnya helm, kita sudah ada penitipan helm di Gedung Perpustakaan Lantai 2, kenapa tidak dititipkan?” tuturnya.
Kurangnya sosialisasi dari pihak pengelola parkir mengenai lokasi penitipan helm menjadi suatu penghambat bagi mahasiswa untuk menggunakan fasilitas tersebut. Sementara itu, Journo Liberta sudah menghubungi pihak security, namun sampai berita ini diterbitkan tidak ada jawaban terkait keamanan di kampus.
Penulis: Siti Nurhaliza Safitri
Editor: Nurma Nafisa