Journoliberta.com – Pertunjukan Bangkitnya Don Quixote dalam rangka Festival Teater Kampus Jakarta (FTKJ) 2026 karya Teater Syahid UIN Jakarta digelar di Aula Student Center UIN Jakarta, Jumat (21/8). Pertunjukan tersebut mengangkat sosok Don Quixote, yang menggambarkan persoalan kehidupan masa kini, terutama perkembangan teknologi, hoaks, dan disinformasi.
Sutradara Bangkitnya Don Quixote, Ananda Dwi Pangestu, menjelaskan pemilihan naskah tersebut berangkat dari keterkaitannya dengan kondisi yang terjadi saat ini. Menurutnya, maraknya hoaks dan disinformasi tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat menerima maupun menyebarkan informasi tanpa mengetahui kebenarannya.
“Kami membahas pascakebenaran, hoaks, dan disinformasi serta bagaimana hal itu bisa terjadi. Tanpa disadari, kita juga bisa menjadi bagian dari penyebaran informasi tersebut, misalnya ketika langsung membagikan sesuatu tanpa mengetahui benar atau salahnya,” ujar Ananda saat diwawancarai di Aula Student Center UIN Jakarta, Jumat (21/8).
Selain itu, Ananda mengatakan, sosok Don Quixote dalam pertunjukan digunakan sebagai entitas untuk menggambarkan persoalan yang terjadi saat ini. Sementara itu, keresahan Sancho dalam cerita menjadi bagian yang digunakan untuk menggugah penonton agar menyadari keterlibatan manusia dalam berbagai persoalan yang terjadi.
“Sancho resah terhadap hal-hal yang terjadi hari ini dan tidak banyak disadari orang. Ia berusaha mengganggu agar orang-orang tergugah dan menyadari bahwa ternyata kita juga menjadi bagian dari persoalan tersebut,” katanya.
Menurut Ananda, kedekatan mahasiswa dengan teknologi turut memengaruhi pengolahan cerita dalam pertunjukan. Ia mencontohkan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik sebagai salah satu bentuk kedekatan mahasiswa terhadap teknologi.
“Kita sebagai mahasiswa sering kali menggunakan AI tanpa mengolah kembali hasilnya. Misalnya saat ujian, kita bisa membuka HP dan menggunakan jawaban dari teknologi, tetapi kemudian muncul pertanyaan, apakah itu benar-benar hasil pemikiran kita sendiri,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu penonton Bangkitnya Don Quixote, Lutfi, melihat persoalan dalam pertunjukkan tersebut masih berkaitan dengan kehidupan mahasiswa. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat kehidupan mahasiswa semakin dekat dengan penggunaan media sosial dan AI.
“Kalau yang terasa dekat dengan kehidupan saya sebagai mahasiswa mungkin soal life update, media sosial, dan penggunaan AI. Hal-hal tersebut memang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa sekarang dan menjadi bagian dari keseharian,” ujar Lutfi saat diwawancarai di Aula Student Center UIN Jakarta, Jumat (21/8).
Selain itu, Lutfi juga menyoroti, perubahan kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan teknologi dan media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi tetap perlu diimbangi dengan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan interaksi antarmanusia.
“Kehidupan anak-anak sudah tidak lagi seperti dulu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain dan scroll media sosial daripada bermain bersama teman-temannya. Ilmu pengetahuan lebih baik diajarkan oleh manusia dibandingkan AI karena secanggih apa pun teknologi, tidak akan pernah bisa copy-paste kehidupan manusia,” pungkasnya.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas. ❤ Beri Dukungan





