Journoliberta.com – Kolektif Mahasiswa menggelar Pilu di Bulan Sembilan pada 21-22 September di Tangga Perpustakaan Umum UIN Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan lapak baca, lokakarya zine, diskusi, teater, pertunjukan musik, dan sablon on the spot untuk mengenang berbagai tragedi September Hitam sekaligus menjadi ruang diskusi dan solidaritas mahasiswa.
Kegiatan ini digelar melalui kolaborasi dengan sekitar 16 kolektif dari dalam maupun luar UIN Jakarta. Perwakilan Matramaners, Lutfi Firdaus mengatakan, kolaborasi dalam acara Pilu di Bulan Sembilan berawal dari keresahan terhadap berbagai tindakan represif terhadap masyarakat, seperti pembunuhan, pembungkaman, hingga intimidasi yang dilakukan aparat dan negara.
“Awalnya kami dari Matramaners hanya berbincang santai mengenai September Hitam dan akhirnya mencoba mengadakan acara dengan berkoordinasi bersama beberapa kolektif. Kami memiliki satu tujuan, yaitu menyatukan antarkolektif tetap berdiri secara independen di tengah hiruk-pikuk negara dan kampus,” ujar Lutfi saat diwawancarai di gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Senin (21/9).
Lebih lanjut, Lutfi menjelaskan, upaya mahasiswa untuk mengingat tragedi September perlu diiringi dengan kesadaran terhadap kondisi sosial dan politik. Menurutnya, keberadaan kolektif di luar organisasi mahasiswa menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk membangun kesadaran tersebut.
“Dari acara ini kita bisa melihat ternyata di UIN Jakarta, selain bergerak di ranah organisasi mahasiswa, ternyata ada organisasi yang sifatnya kolektif dan tanpa hierarki. Kami mencoba menunjukkan kepada publik bahwa mahasiswa masih memiliki prinsip idealis yang tinggi,” jelasnya
Selain itu, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Jakarta, Muhammad Zidan Ramdani, menyebut keterlibatan DEMA FDIKOM dalam Pilu di Bulan Sembilan bermula dari Departemen Kajian dan Aksi Strategis yang bergabung dengan berbagai kolektif. Kegiatan serupa juga direncanakan digelar setiap tahun dengan melibatkan lebih banyak kelompok mahasiswa.
“Awal mulanya memang dari DEMA FDIKOM, khususnya di Departemen Kajian dan Aksi Strategis, mencoba untuk bisa berusaha tergabung dalam berbagai macam kolektif yang ada di UIN Jakarta. Di sini juga banyak komunitas dari internal maupun eksternal, seperti dari Universitas Pamulang dan Universitas Moestopo,” ucap Zidan saat diwawancarai di gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Senin (21/9).
Tak hanya itu, Zidan menuturkan, acara ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengubah pandangan terhadap September sebagai bulan perlawanan. Ia menyampaikan, perlawanan tersebut ditunjukkan melalui berbagai kegiatan yang mendorong mahasiswa untuk berkarya.
“Kita ingin mengubah pola pikir atau perspektif kalau September ini bukan lagi bulan yang kelam, kita mengubahnya menjadi bulan perlawanan. Seperti ada book party sebagai bentuk perlawanan terhadap kebodohan atau malas membaca, kemudian ada lokakarya yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya ngampus pulang-ngampus pulang, tetapi juga bisa berkreasi,” tuturnya
Lebih lanjut, Zidan berharap kegiatan Pilu di Bulan Sembilan dapat memberi dampak berkelanjutan bagi mahasiswa UIN Jakarta. Ia ingin aktivitas mahasiswa kembali tumbuh dan kegiatan seperti ini dapat muncul di luar acara tersebut.
“Harapannya tentu banyak, salah satunya yaitu mulai kembali aktivisme di lingkungan kampus. Kemudian bisa memantik kembali kegiatan-kegiatan serupa tentunya di luar dari kegiatan ini,” tutupnya.
Penulis: Adelia Putri Haryati
Editor: Lisda Dwi Nasywa



