JournoLiberta – Pembangunan taman di UIN Jakarta memicu perdebatan di kalangan civitas academica. Sejumlah mahasiswa menilai proyek tersebut belum menjadi prioritas di tengah berbagai persoalan fasilitas kampus yang belum sepenuhnya teratasi.
Kepala Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga UIN Jakarta, Halim, mengatakan pembangunan taman bertujuan meningkatkan kualitas fasilitas umum sekaligus memperkuat identitas UIN Jakarta sebagai Green Campus. Menurutnya, keberadaan taman diharapkan menjadi ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan mahasiswa.
“Kampus kita sudah lama tidak memiliki taman yang representatif. Sekarang ada beberapa ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk berdiskusi, berkumpul, dan mengabadikan momen,” ujar Halim saat diwawancarai di Kampus 1 UIN Jakarta, Rabu (17/6).
Halim menjelaskan pembangunan taman bukan menjadi prioritas awal kampus. Sebelumnya, kampus telah merevitalisasi sejumlah fasilitas seperti toilet, ruang kelas, penggantian kursi kuliah, dan penyediaan televisi untuk mendukung pembelajaran digital.
“Fasilitas yang mendesak sudah dikerjakan, mulai dari kelas, toilet, sampai fasilitas pembelajaran. Sekarang tinggal fasilitas umum yang menjadi wajah kampus,” jelasnya.
Lebih lanjut, Halim menyampaikan, pembangunan fasilitas dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya terhadap civitas academica. Ia menjelaskan, pembangunan taman merupakan bagian dari program jangka panjang kampus untuk memperluas ruang terbuka bagi mahasiswa.
“Kalau memang ada kebutuhan lain, silakan disampaikan melalui Simantra supaya bisa kami tindak lanjuti. Mahasiswa itu enggak hanya datang, kuliah, lalu pulang. Mereka butuh ruang untuk rapat, diskusi, dan mengembangkan kemampuan organisasinya,” tuturnya
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Green Campus UIN Jakarta, Hendrawati, menyebut pembangunan taman merupakan bagian dari implementasi indikator UI Green Metric, yaitu pemeringkatan perguruan tinggi tingkat dunia yang digagas Universitas Indonesia pada 2010 untuk menilai komitmen kampus terhadap keberlanjutan lingkungan melalui beberapa indikator. Menurutnya, konsep Green Campus juga berfokus pada peningkatan kualitas lingkungan serta fungsi ruang publik di kawasan kampus.
“Penghijauan itu bukan sekadar menambah pohon, tetapi mempertahankan, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas ruang terbuka yang sudah ada,” ujar Hendrawati saat diwawancarai di Kampus 1 UIN Jakarta, Jumat (10/7).
Ia menjelaskan pembangunan taman telah melalui kajian berdasarkan indikator Green Metric, termasuk mempertimbangkan keberadaan pohon yang sudah tumbuh di kawasan kampus. Selain memperbaiki estetika lingkungan, taman juga dirancang sebagai ruang interaksi yang dapat dimanfaatkan mahasiswa lintas fakultas untuk berdiskusi maupun beraktivitas bersama.
“Tujuan utamanya memang estetika, tetapi juga menambah fungsi sebagai ruang sosialisasi dan tempat diskusi sivitas akademika,” jelasnya.
Menanggapi kritik mengenai skala prioritas pembangunan, Hendra memastikan anggaran pembangunan taman tidak mengurangi alokasi fasilitas lain. Menurutnya, setiap program pembangunan telah memiliki rencana anggaran masing-masing.
“Jangan khawatir kalau membangun taman kemudian menyedot anggaran yang lain, karena semuanya sudah memiliki Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) dan perencanaan masing-masing,“ tegasnya.
Di sisi lain, berbeda dengan pandangan kampus Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Jakarta, Zidan, menilai pembangunan ruang hijau belum menjadi kebutuhan paling mendesak bagi mahasiswa.
“Kami mendukung kampus memperbaiki fasilitas dan mempercantik lingkungan, tetapi saya berharap pembangunan lebih berorientasi pada kebutuhan dasar yang langsung dirasakan sivitas akademika,“ ujar Zidan saat diwawancarai melalui via WhatsApp, Senin (22/6).
Zidan menilai, mahasiswa belum pernah dilibatkan dalam proses penyusunan kebijakan pembangunan fasilitas kampus. Menurutnya pembangunan taman lebih mencerminkan upaya kampus memenuhi target Green Campus dibanding menjawab kebutuhan mahasiswa.
“Kalau mahasiswa ditanya lebih dulu, pasti yang diminta itu perbaikan toilet, lift, ruang kelas, atau keamanan kampus, bukan taman. Buat saya, taman ini lebih untuk memenuhi program Green Campus, sedangkan persoalan seperti CCTV, fasilitas musala, kondisi beberapa gedung kampus juga masih terus menjadi keluhan mahasiswa,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan seorang mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), S mengatakan taman memang dapat dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat maupun berdiskusi. Namun, manfaat tersebut belum sebanding dengan kebutuhan terhadap fasilitas belajar yang hingga kini masih membutuhkan perbaikan.
“Saya berharap pembangunan di kampus diprioritaskan pada kebutuhan yang paling mendesak, seperti menyelesaikan fasilitas yang berkaitan langsung dengan kegiatan akademik, yang lebih penting itu ruang kelas, Wi-Fi, toilet, sama area parkir,” tuturnya.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas. ❤ Beri Dukungan





