Journoliberta.com – Penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang memicu krisis pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan. Kapasitas TPA yang tidak lagi mampu menampung produksi sampah harian mendorong pemerintah daerah mengambil langkah darurat dengan menjalin kerja sama lintas wilayah guna mengalihkan pembuangan sampah ke luar daerah.
Menanggapi hal ini, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan penanganan sampah tidak boleh berhenti meskipun TPA sedang dalam proses penataan. Ia meminta agar pengelolaan tetap berjalan bersamaan dengan penyesuaian teknis di lapangan.
“Pada kesempatan hari ini, kami minta agar penanganan sampah yang di kota ini kembali dilakukan di Cipeucang sambil penataannya dilakukan. Jadi, saya minta penataannya digeser sedikit dulu. Sampah yang di kota-kota itu ditangani dulu,” ujar Hanif saat diwawancarai di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Senin (22/12).
Kondisi terkini di TPA Cipeucang menunjukkan persoalan yang lebih kompleks. Tumpukan sampah yang menggunung tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mempengaruhi kualitas air sumur dan tata kelola lingkungan sekitar. Salah satu warga sekitar, Yanah, menyebut penumpukan sampah sudah terjadi sejak Desember dan semakin tak terkendali.
“Denger-denger mah udah ditutup permanen dari Desember, ya karena udah penuh begini, tebel banget, menggunung,” ujar Yanah saat diwawancarai di sekitar TPA Cipeucang, Rabu (11/2).
Menurutnya, sistem pembuangan kini tidak lagi tertata seperti sebelumnya. Truk disebut membuang sampah langsung secara acak tanpa pengaturan yang jelas. Yanah juga menyoroti berkurangnya jumlah pengelola sampah di lokasi tersebut.
“Sekarang mah truk baru sampai depan langsung dibuang aja, jadinya berantakan dan numpuk enggak beraturan. Dulu bisa sampai ratusan orang (pekerja), sekarang paling sisa lima puluhan. Banyak yang pergi karena sampahnya numpuk, enggak kuat. Ditambah bantuan dari pemerintah juga udah lama enggak turun,” katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Marsanah (nama samaran), turut merasakan perubahan kondisi lingkungan. Ia mengatakan air bersih untuk minum hanya datang beberapa hari sekali dari pemerintah daerah (pemda), sementara kebutuhan mencuci mengandalkan sumur.
“Air minum kadang tiga hari sekali dapat dari pemda. Kalau buat cuci dari sumur. Kalau kemarau bening, tapi kalau musim hujan kotor kena rembesan sampah,” ujar Marsanah saat diwawancarai di sekitar TPA Cipeucang, Rabu (11/2).
Lebih lanjut, Ia menyebut kondisi wilayah tersebut sebelum timbunan sampah meluas berbeda dengan sekarang. Menurutnya, area itu sebelumnya masih berupa kebun dengan tanah yang datar serta jalan yang lebih lebar.
“Dulu masih ada pohon pisang, singkong, sereh. Tanahnya datar, jalan lebar, ada lapangan buat anak-anak main bola. Sekarang mah penuh sampah menggunung begitu,” katanya.
Selain itu, kekhawatiran warga bukan hanya soal bau atau air yang tercemar, tetapi juga ancaman keselamatan saat musim hujan tiba. Yanah menyebut timbunan sampah yang menggunung berpotensi longsor dan menutup permukiman di bawahnya.
“Kalau hujan badai bisa longsor lagi, ketutup semua rumah sama jalan. Kemarin sampai pada demo, tetapi dari pemerintah belum ada tanggapan,” ujar Yanah.
Tidak hanya itu, dampaknya tak hanya dirasakan warga sekitar TPA, tetapi juga menyebabkan penumpukan sampah di wilayah Ciputat. Tumpukan sampah di titik-titik tertentu menimbulkan keluhan, terutama terkait bau tidak sedap dan juga dampak terhadap kesehatan lingkungan.
Petugas pengangkut sampah, Edi, mengatakan pengangkutan sampah saat ini berjalan setiap hari. Meski demikian, padatnya aktivitas pasar dan pemukiman membuat produksi sampah terus meningkat.
“Pengangkutan jalan tiap hari, cuma sampahnya banyak bener soalnya Ciputat kan padat, pasar banyak, orangnya banyak. Sekali gak keangkut aja, besoknya bisa langsung numpuk tinggi,” ujar Edi saat diwawancarai di Pasar Ciputat, Kamis (12/2).
Adapun ia menjelaskan, penumpukan terjadi karena TPA mengalami kendala kapasitas. Akibatnya, truk pengangkut sampah harus mengantri dan ritase pembuangan menjadi kurang.
“Kapasitas TPA si jadi kendalanya. Truk ada, tapi kalau buangnya ngantri lama, ritasenya jadi berkurang. Harusnya bisa tiga kali buang, ini bisa jadi cuma satu atau dua kali. Belum lagi macet, jalan sempit, parkir liar. Jadi kerjaan kita kadang kehambat,” jelasnya.
Di sisi lain, Warga Ciputat, Fadel, menilai kurangnya kesadaran masyarakat menjadi penyebab utama dari penumpukan sampah di titik-titik tertentu. Ia menyebut sebagian warga belum peduli terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan dari praktik membuang sampah sembarangan yang membuat penumpukan.
“Kayaknya warga yang buang sampah sembarangan itu kurang kesadaran. Jadi kayak nggak peduli sama lingkungan sendiri,” ujar Fadel saat diwawancarai di sekitar Pasar Ciputat, Rabu (11/2).
Di samping itu, Fadel juga mengkritik penanganan awal yang sempat dilakukan pemerintah saat penumpukan terjadi. Menurutnya, langkah seperti penutupan penumpukan sampah dengan terpal dan pemberian pewangi tidak menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
“Pemerintah hanya ngasih pengharum, terus juga ditutup terpal. Itu kan menurut gua enggak efisien ya. Seharusnya pemerintah langsung ngebawa sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir,” ungkapnya.