Journoliberta.com – Di tengah ritme hidup yang semakin cepat, kelelahan mental atau mental fatigue menjadi fenomena yang kian akrab di kalangan mahasiswa terutama Gen Z dan Gen Milenial. Tekanan akademik, tuntutan produktivitas hingga distraksi digital membuat banyak anak muda merasa lelah secara psikis, meski tubuh tidak selalu kehabisan tenaga.
Dalam situasi tersebut, salat kerap dipersepsikan sebatas kewajiban ibadah yang menyita waktu. Berdasarkan kajian akademik dan pandangan keislaman menunjukan bahwa salat justru dapat berfungsi sebagai sarana recharge jiwa sekaligus pelatih fokus di tengah kehidupan modern.
Skripsi Tiara Sukmawati yang merujuk Tafsir Ruh al-Ma’ani karya Imam Al-Alusi menempatkan salat sebagai media terapi jiwa. Salat dipahami bukan hanya sebagai gerakan fisik, tetapi proses psikospiritual yang mampu menetralisir kegelisahan. Ketenangan (thuma’ninah) lahir dari dzikir dalam setiap bacaan salat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” QS. Ar-Ra’d: 28.
Dalam penafsirannya terhadap QS. Al-Ma’arij ayat 19-23, Imam Al-Alusi menjelaskan bahwa sifat mudah gelisah dapat dikendalikan melalui salat yang dilakukan secara konsisten. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian Lailatul Izzah yang menunjukkan bahwa salat khusyuk berpengaruh signifikan terhadap peningkatan konsentrasi belajar mahasiswa, dengan kontribusi sebesar 31,7 persen.
Ustadz Dede Sunandar menilai bahwa persoalan utama generasi muda hari ini bukan terletak pada beratnya salat, melainkan pada kurangnya pemahaman terhadap makna bacaan dan gerakan di dalamnya. Menurutnya, salat melatih seseorang untuk hadir sepenuhnya di hadapan Allah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
“Untuk melatih fokus dalam salat, kita harus memahami arti dari setiap ayat yang dibaca. Salah satu caranya adalah memusatkan pandangan pada tempat sujud sebagai satu titik fokus, serta membaca dengan suara lirih agar pikiran tidak mudah terpecah,” ujar Dede Sunandar saat diwawancarai di kediaman, Jawa Barat, Rabu (11/2).
Ia juga menyoroti pembagian waktu salat yang sering dianggap mengganggu aktivitas. Menurutnya, penetapan waktu salat justru dapat menjadi acuan manajemen waktu dan kedisiplinan hidup seorang muslim.
“Setiap kali azan berkumandang, tidak ada alasan untuk menunda salat. Salat menghadirkan ketenangan dalam diri kita, baik secara pikiran maupun jiwa, dan itu menjadi tolak ukur kualitas kehidupan seorang hamba,” tambahnya.
Sejalan dengan QS. An-Nisa ayat 103, salat merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya. Ketepatan waktu dalam salat dapat melatih kesadaran untuk menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, Ustadz Dede mendorong generasi muda menjadikan salat sebagai “meja pengaduan” atas persoalan hidup.
“Salat bukan beban, tetapi sarana kita berbicara dengan Allah. Jika salat dilakukan dengan ilmu dan kesadaran, di sanalah manisnya iman bisa dirasakan,” pungkasnya.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





