Journoliberta.com – Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (Pestarama) kembali gelar pertunjukan drama pada 20-22 Mei 2025 di Gedung Teater Bulungan, Jakarta Selatan. Pestarama#10 ini mengusung tema Relung Langkah Budayawan Muslim Indonesia Jilid 2 dengan judul Masyitoh yang dipentaskan di hari pertama, Selasa (20/5).
Sutradara drama Masyitoh, Novia Fitri menjelaskan, tema besar yang diangkat dalam pementasan ini adalah perjuangan masyarakat Bani Israil untuk melawan penjajahan masyarakat Mesir. Novia juga menyampaikan mengenai pesan utama yang ingin disampaikan dari pertunjukan ini adalah perjuangan melawan penindasan.
“Drama ini menceritakan tentang bagaimana nasib tidak akan berubah tanpa adanya usaha. Dan perjuangan hanya bisa dilakukan dengan kebersamaan,” ucap Novia di Gedung Teater Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (20/5).
Lebih lanjut, Novia mengatakan, Masyitoh tidak hanya menyajikan nilai-nilai historis-religius, tapi drama ini juga menyajikan berbagai nilai sosial seperti kebersamaan. Ia menambahkan bahwa manusia hidup berdampingan dan perubahan bisa terjadi jika saling bahu-membahu.
“Kita hidup berdampingan, dan perubahan hanya mungkin terjadi kalau kita saling bekerja sama. Tidak bisa kita berjuang seorang diri,” lanjutnya.
Salah satu Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Nur Syamsyiah menekankan, pentas drama seperti ini merupakan bentuk pembelajaran afektif. Mahasiswa dapat belajar cara mengekspresikan diri serta menyampaikan pesan moral dan sosial kepada masyarakat. Ia juga menyebut Masyitoh sebagai karya yang relevan di Indonesia untuk menghadapi berbagai bentuk ‘penjajahan’ modern yang menuntut keberanian dan keteguhan diri.
“Naskah ini diangkat karena ingin menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia itu harus berjuang. Jangan berpangku tangan, tapi harus berjuang untuk menghadapi segala hal,” ujarnya saat diwawancarai di Gedung Teater Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (20/5).
Di sisi lain, salah satu penonton pertunjukan, Imas mengungkapkan, drama ini berhasil menghidupkan kembali semangat sejarah yang mulai terlupakan. Imas mengatakan bahwa pementasan ini relevan dengan kondisi masyarakat yang dinilai sedang krisis dalam hal keberanian dan keteguhan prinsip.
“Perjuangan Masyitoh mempertahankan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah membuat kita bangga. Drama ini juga relevan dengan kehidupan sekarang yang sudah berkurang keberaniannya,” ucapnya.

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan




