Sebelum Tubuh Mulai Berbicara, Sudahkah Kita Mendengar?

Sebelum Tubuh Mulai Berbicara, Sudahkah Kita Mendengar?
Ilustrasi sebelum tubuh mulai berbicara, sudahkah kita mendengar? Journo Liberta/Alfassalam Muhammad.

Journoliberta.com Awal bulan selalu membawa tujuan yang sama bagi Siti Syahla. Dengan kartu berobat yang tak pernah jauh dari genggaman, perempuan berusia 52 tahun itu melangkah menuju rumah sakit untuk memastikan kadar gula darahnya tetap terkendali. Menjelang akhir bulan, langkah serupa kembali mengarah ke puskesmas. 

Rutinitas itu kini menjadi bagian dari hidupnya, sama lazimnya dengan menyiapkan sarapan atau menyapu halaman rumah. Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu ia hampir tak pernah memeriksakan kesehatannya. Saat itu, tubuh yang masih mampu beraktivitas membuatnya percaya bahwa semuanya baik-baik saja, sampai sebuah pemeriksaan mengungkap kenyataan yang mengubah cara pandangnya tentang arti sehat.

Di tempat lain, keyakinan bahwa tubuh masih baik-baik saja juga dimiliki Azka. Mahasiswa yang tengah merantau di Pondok Aren itu memahami pentingnya mengenali kondisi kesehatan. Namun, pemahaman tersebut belum cukup untuk membawanya ke ruang pemeriksaan. Selama tubuh masih sanggup mengikuti ritme kuliah, mengejar beasiswa, dan menjalani aktivitas sehari-hari, kesehatan menjadi urusan yang terasa bisa ditunda.

“Saya sebenarnya ingin tahu kondisi kesehatan saya, tapi motivasi untuk benar-benar datang masih rendah,” ujarnya.

Satu memilih datang sebelum tubuh memberi peringatan, sementara yang lain merasa masih memiliki cukup waktu untuk menunggu. Jarak di antara keduanya ternyata bukan sekadar usia, pekerjaan, ataupun kemudahan mengakses layanan kesehatan, melainkan pengalaman yang membentuk cara mereka memandang arti sehat. 

Di tengah masyarakat, kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan sesungguhnya telah tumbuh. Namun, tidak semua kesadaran itu menjelma menjadi keberanian untuk bertindak sebelum tubuh lebih dulu menyampaikan kabar buruk.

Bagi Siti, kesadaran itu datang setelah tubuh lebih dulu memberi peringatan. Sebelum didiagnosis mengidap diabetes melitus tipe 2 pada 2024, ia mengaku hampir tidak pernah menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. Selama masih dapat beraktivitas seperti biasa, ia merasa tidak ada alasan untuk datang ke fasilitas kesehatan. 

Pandangan itu berubah ketika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darahnya jauh di atas batas normal. Sejak saat itu, pemeriksaan kesehatan menjadi bagian dari rutinitas yang tak lagi ia lewatkan.

“Kalau kita tau ada masalah kesehatan, kita bisa lebih menjaga pola makan dan pola hidup biar tetap sehat kan gitu,” tuturnya.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap kesehatan. Baginya, pemeriksaan bukan lagi dipahami sebagai upaya mencari penyakit, melainkan kesempatan untuk mengenali kondisi tubuh lebih awal sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan. Kesadaran yang tumbuh setelah menghadapi penyakit membuatnya lebih disiplin menjalani pengobatan, mengatur pola makan, serta menjaga aktivitas sehari-hari.

Cara pandang serupa juga terlihat di lingkungan masyarakat sekitar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Tangerang Selatan. Hampir setiap pekan, warga mengikuti kegiatan posyandu yang bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Keranggan. Di sana, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, hingga kolesterol dilakukan secara berkala. 

Agar suasana lebih akrab, kegiatan tersebut turut diselingi permainan sederhana dan pembagian hadiah, sehingga pemeriksaan kesehatan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menegangkan, melainkan menjadi ruang berkumpul sekaligus saling mengingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh.

Kehadiran kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian masyarakat, menjaga kesehatan tidak lagi dilakukan ketika penyakit datang, tetapi telah menjadi bagian dari kebiasaan. Meski demikian, kebiasaan itu belum sepenuhnya dimiliki semua orang. 

Menurut Umi, masih ada warga yang memilih menghindari pemeriksaan karena khawatir mengetahui hasilnya. Bahkan, tidak sedikit yang enggan mengambil hasil pemeriksaan setelah pengecekan dilakukan. Rasa takut terhadap kemungkinan kabar buruk kerap lebih besar daripada keinginan untuk memastikan kondisi tubuh sendiri.

Jika Siti dan Umi mulai memahami arti penting pemeriksaan kesehatan setelah penyakit datang, Azka masih berada pada fase yang berbeda. Di tengah jadwal kuliah yang padat, tugas akademik, hingga target beasiswa yang ingin diraih, pemeriksaan kesehatan belum pernah benar-benar masuk ke dalam daftar prioritasnya. Selama tubuh masih mampu mengikuti ritme aktivitas sehari-hari, ia merasa tidak ada alasan yang cukup mendesak untuk datang ke fasilitas kesehatan.

“Saya sebenarnya ingin tahu kondisi kesehatan diri sendiri tuh gimana. Keinginannya ada, tapi motivasi untuk bener-bener dateng masih rendah lah,” ujarnya.

Bagi Azka, persoalannya bukan karena menganggap kesehatan tidak penting. Ia justru menyadari bahwa mengetahui kondisi tubuh merupakan langkah yang baik. Namun, ada kekhawatiran yang diam-diam ikut tumbuh. 

Mengetahui hasil pemeriksaan berarti harus siap menerima kemungkinan mengubah pola hidup, menjalani pengobatan, atau menghadapi kenyataan bahwa tubuhnya tidak sebaik yang selama ini ia bayangkan. Selama tubuh belum memberikan keluhan, rasa takut itu sering kali lebih mudah dikalahkan dengan keyakinan bahwa semuanya masih baik-baik saja.

“Selama kondisi badan sekarang masih fit, jadi fokusnya masih ke kuliah dan karir dulu. Lagian kalau periksa kesehatan sekarang, rasanya belum siap secara psikologis ya sama hasilnya. Kalau tau ada apa-apa, malah jadi beban pikiran dan tanggung jawab baru buat berobat atau jaga pola hidup ketat. Ditambah belum ada urgensi, jadi ya ditunda dulu,” tambah Azka.

Pengalaman serupa juga muncul dari Bobby dan Abil. Keduanya mengaku lebih sering mendatangi klinik ketika mengalami keluhan dibandingkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kemudahan akses, pelayanan yang lebih cepat, serta lokasi yang lebih dekat menjadi alasan memilih klinik. Namun, seperti halnya Azka, pemeriksaan kesehatan belum dianggap sebagai kebutuhan selama tubuh masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Kalau saya pribadi biasanya baru ke puskesmas kalau sakit. Sebagai mahasiswa, waktunya kan cukup terbatas dan kadang jadwal layanan kesehatan ga sesuai dengan waktu luang yang ada gitu,” tambah Abil. 

Bagi mereka, kesehatan bukan sesuatu yang diabaikan, melainkan sesuatu yang belum terasa mendesak. Kesadaran untuk menjaganya telah ada, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah kebiasaan. Selama tubuh masih terasa baik-baik saja, ruang pemeriksaan selalu tampak seperti tempat yang masih bisa didatangi nanti.

“Saya pribadi juga jarang ke puskesmas. Biasanya cuman dateng kalau memang lagi sakit atau ada kebutuhan kesehatan tertentu yang mengharuskan ke sana,” jelas Bobby. 

Cara pandang semacam itu bukan hanya ditemukan di kalangan mahasiswa, melainkan juga masih dijumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Di balik berbagai upaya yang dilakukan untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, masih ada satu tantangan yang lebih sulit diatasi, yaitu mengubah keyakinan bahwa tubuh yang belum terasa sakit selalu berarti tubuh yang benar-benar sehat.

Di balik ruang pemeriksaan, keputusan menunda pemeriksaan masih berulang dari waktu ke waktu. Ada yang datang setelah keluhan semakin berat, ada pula yang mengaku pernah disarankan menjalani pemeriksaan lebih lanjut, tetapi memilih menundanya karena merasa tubuhnya masih baik-baik saja.

Cerita-cerita seperti itu dirasakan langsung oleh dr. Yusnizar Iqbal Harahap. Menurutnya, kondisi tersebut hampir setiap hari ia temui saat menangani pasien.

“Itu sehari-hari. Banyak sekali. Kasus serangan jantung itu sehari-hari, padahal tadinya sudah dikasih tahu. ‘Bu, kan tadinya sudah dikasih tahu. Disuruh periksa ini, periksa itu.’ Tapi nggak mau. Akhirnya sekarang datang sudah parah, nggak bisa napas. Hampir tiap hari ada,” ujarnya.

Bagi dr. Yusnizar, pemeriksaan kesehatan bukan dilakukan untuk mencari penyakit, melainkan memberi kesempatan agar penyakit dapat dikenali dan ditangani lebih awal sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Tidak semua orang memiliki alasan yang sama untuk melangkah ke ruang pemeriksaan. Ada yang datang karena tubuh sudah lebih dulu memberi peringatan. Ada pula yang memilih menunggu hingga merasa benar-benar membutuhkan. Di antara dua pilihan itu, setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mulai mengenali arti penting sebuah pemeriksaan kesehatan.

Bagi Siti, waktu itu telah datang ketika penyakit mengubah cara pandangnya terhadap tubuh yang selama bertahun-tahun ia anggap baik-baik saja. Kini, setiap jadwal kontrol bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar agar tetap sehat dan dapat menjalani hari-hari bersama keluarganya.

Di sisi lain, Azka masih menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa dengan keyakinan bahwa tubuhnya masih mampu mengikuti segala kesibukan. Keinginan untuk memeriksakan diri memang ada, tetapi belum cukup kuat untuk mengalahkan berbagai alasan yang membuatnya terus menunda.

Beberapa hari lagi, Siti akan kembali duduk di kursi ruang tunggu yang sudah akrab baginya. Sementara di sudut kota yang lain, Azka mungkin masih bergegas mengejar kelas pagi tanpa sempat memikirkan kapan terakhir kali memeriksa kesehatannya. 

Keduanya sedang menempuh jalan yang berbeda. Hanya waktu yang akan menentukan, di titik mana kesadaran itu akhirnya datang.


Penulis: Alfassalam Muhammad
Editor: Lisda Dwi Nasywa
☕ Traktir Kopi

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.

❤ Beri Dukungan

Pos terkait