Journoliberta.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Syahid UIN Jakarta menampilkan teater adaptasi “Kopral Woyzeck” karya Georg Büchner yang disutradarai oleh Syaifullah Almahdi di Aula Student Center UIN Jakarta, Jumat (17/10) hingga Minggu (19/10). Pertunjukkan yang digelar dalam rangka perayaan milad Teater Syahid ke-37 tahun ini dihadiri oleh sejumlah penonton dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum.
Pertunjukan ini mengisahkan seorang prajurit rendahan, Woyzeck yang mengalami keputusasaan setelah mencurigai perselingkuhan istrinya, Marie. Ia berjuang di tengah tekanan hidup yang sarat keegoisan dan hasrat materi, hingga membuatnya terasing dan menderita. Kisahnya menggambarkan perjuangan banyak orang yang harus bertahan hidup dengan mengorbankan harga diri.
Sutradara pertunjukkan, Syaifullah Almahdi menyampaikan pesan pertunjukan ini menyiratkan bahwa kekayaan, uang, dan kekuasaan dapat menghancurkan seseorang secara psikologis, bahkan membuat orang yang tidak bersalah justru disalahkan. Ia menambahkan, pertunjukan ini juga mempertanyakan apakah moral dan kepribadian seseorang diukur dari kekayaan yang dimilikinya.
“Bahwasanya harta, uang, dan kekuasaan itu ternyata bisa menghancurkan kita semua. Baik itu dari segi mental, dari segi psikologis, bahkan membuat orang yang tidak bersalah itu disalahkan. Dan masih menjadi sebuah pertanyaan, apakah suatu moral itu, suatu kepribadian diukur oleh harta?” ujarnya saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center, Jumat (17/10).
Aktor utama dalam pertunjukkan, Fajar Mulya mengungkapkan tantangan selama memerankan Woyzeck adalah menggali karakter yang terdampak secara mental akibat peperangan. Ia menuturkan, proses pendalaman peran dilakukan dengan menonton, mendengar, dan membayangkan kehidupan sehari-hari untuk memahami dampak psikologis tersebut.
“Karena dia itu tokoh yang terdampak dalam peperangan. Jadi aku harus terpapar-terpapar oleh dampak-dampak peperangan terlebih dahulu. Terus aku mencari-cari, menonton, mendengar, aku mengimajinasikan sebuah karakter Woyzeck dalam dampak peperangan itu dan aku juga melakukan pencarian karakter Woyzeck dalam kegiatan sehari-hari,” ungkap Fajar saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center, Jumat (17/10).
Sementara itu, pemeran dokter yang gemar bereksperimen, Haikal mengatakan tantangannya dalam memerankan peran tersebut terletak pada penyesuaian diri dengan naskah tahun 1836. Ia melakukan berbagai riset mengenai karakter dan bahasa ilmiah pada masa itu untuk memahami cara dokter tersebut berbicara, bergerak, dan berperilaku.
“Naskah ini kan diambil tahun 1836, jadi harus tau yang dilakukan dokter eksperimen itu, apa nama ilmiahnya, apa artinya, jadi kaya harus tahu banget bagaimana dokter eksperimen ini bergerak, misalkan dia psikopat, gila, atau fetish,” tukasnya saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center, Jumat (17/10).
Di sisi lain, salah satu penonton, Haidar mengaku pertunjukan ini memberinya wawasan baru tentang dampak peperangan terhadap mental dan kondisi sosial masyarakat. Ia menilai bahwa efek peperangan sangat besar dan memengaruhi kehidupan sosial.
“Hal yang ditangkap dari pertunjukkan ini adalah menurutku dari tokoh Woyzeck yang diperankan tadi kita bisa tahu bagaimana efek dari peperangan yang ternyata berpengaruh ke mental dan kehidupan sosial,” tukas Haidar saat diwawancarai secara langsung di Aula Student Center, Jumat (17/10).
Dalam kesempatan yang sama, pemeran tokoh Kopral Woyzeck, Fajar kembali menuturkan melalui pertunjukan ini, penonton menyaksikan kisah Woyzeck yang mengalami gangguan mental pasca peperangan, tekanan dari atasan, serta perselingkuhan istrinya. Ia berharap pesan tersebut tersampaikan dengan baik dan menyentuh hati penonton.
“Semoga bisa dicerna cukup jelas karena dalam peran Woyzekck ini setelah peperangan dan traumatic-nya sangat buruk. Apalagi dia terkena tekanan mental yang lewat bukan dari pasca peperangan itu saja, tapi tekanan yang lain seperti dari atasan dan perselingkuhan istrinya,” pungkasnya.
