Layanan Mahasiswa Disabilitas: Makin Sepi Sejak Pandemi

fasilitas2Bdifabel

 

Foto: Journo Liberta/Alifia


JOURNOLIBERTA.COM – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai
kampus yang mempunyai cita-cita menjadi kampus inklusif,
seyogianya harus terus mengupayakan layanan, baik segi
fasilitas maupun akademik guna menunjang proses belajar para mahasiswa penyandang
disabilitas.

Center for Student with Special Needs (CSSN) sebagai satu-satunya lembaga di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berupaya memberikan layanan tersebut,
justru tidak menunjukan adanya informasi terbaru.

Per hari ini,
baik dari laman resmi maupun akun Instagram CSSN
, tidak terlihat adanya aktivitas layanan maupun program yang berjalan. Aktivitas terakhir
terjadi pada Oktober 2019, dalam kegiatan Pelatihan Assitive Technology
Universitas Alicante Spanyol.

Ketua CSSN
sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Arief Subhan
, saat dihubungi pada Selasa (16/3/2021), mengatakan bahwa awal
2020
pihaknya telah
mengajukan renovasi ruang perkantoran kepada Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
, Amany Lubis.
Mengingat pentingnya lembaga seperti CSSN,
permohonan tersebut akhirnya dikabulkan Amany.

Menurut Arief, renovasi ruangan sangat dibutuhkan agar
CSSN memiliki kantor yang aktif sekaligus sebagai pusat yang mana mahasiswa
penyandang disabilitas dapat secara
langsung
mendapatkan layanan
.

Arief menyebut, CSSN telah
memili
ki media dan peralatan (termasuk whilechair electric) yang
diperoleh atas kerjasama dengan International
Conference on Indonesian Education for All
(Indoeduc4all) yang sepenuhnya mendapatkan dukungan
finansial dari Uni Eropa.
Perlengkapan tersebut diharapkan dapat
membantu
mahasiswa dalam aktivitas.

Sayangnya,
musibah p
andemi menjadi salah satu penghalang
aktivitas kantor tersebut. Sehingga
kami
juga mengalami hambatan dalam menggala
ng relawan untuk membantu CSSN,” terang Arief kepada wartawan Journo Liberta

Di awal pandemi 2020 lalu, upaya praktis yang dilakukan oleh CSSN hanya
berfokus pada adaptasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Seperti yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),
yaitu dengan
membagikan
pedoman-pedoman yang sudah dipublikasikan.

Namun, Arief mengatakan pihaknya tetap berkirim surat kepada Panitia
Penerimaan Mahasiswa Baru
(PMB) agar memberikan porsi
sesuai dengan ketetapan undang-undang terhadap mahasiswa penyandang disabilitas.

Selain itu, diperpanjangnya Pembelajaran Jarak Jauh
(PJJ) membuat CSSN perlu melakukan langkah konkrit dalam melayani kebutuhan
mahasiswa disabilitas.
Akan tetapi, upaya tersebut masih terbilang jauh. Bisa disebut demikian karena hingga saat ini CSSN masih belum dapat memberikan layanan yang berdampak secara langsung selama PJJ.

Baca juga: Refleksi Setahun PJJ: Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Perhatian Khusus

Adapun, upaya yang dimaksud Arief adalah koordinasi
non-administratif dengan Ketua Program Studi (Kaprodi) yang memiliki mahasiswa penyandang
disabilitas.
Arief juga telah berkoordinasi
dengan Kepala Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
, berkenaan
dengan koleksi pustaka dalam format PDF yang dapat diakses melalui program
Computer Talk
(bicara)
sehingga dapat diakses mahasiswa penyandang disabilitas.

 Terus
terang, kalau pemberian fasilitas secara langsung memang belum bisa diberikan
karena keterbasatan CSSN sendiri
,” tambah Arief.

CSSN hanya Paguyuban

Sejak terbentuk
2017 lalu, CSSN hingga kini belum juga masuk dalam Organisasi Tata Kelola
(Ortala) kampus, Arief mengaku CSSN
sudah menyusun naskah akademik sebagai
bentuk usulan agar
lembaganya
bisa diakomodasi dalam Ortala UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
.

Tetapi usulan tersebut belum bisa
dipenuhi dalam waktu dekat. Jadi, sampai sekarang CSSN masih berupa
paguyubanya
sejenis it
u,” jelas Arief saat ditanya mengenai
kendala.

Lebih lanjut, proses
perubahan Ortala dinilainya tidak sederhana, karena harus melibatkan pihak UIN Jakarta, Kementerian Agama (Kemenag), dan kementerian lainnya. Penambahan unit dalam Ortala juga mengandung arti penambahan jabatan dan staf, artinya akan
ada uang negara yang terserap
. Hal itu lah yang menjadi penyebab hingga kini CSSN masih
berupa paguyuban.

Menyoal perkembangan jumlah mahasiswa disabilitas, Journo Liberta telah melayangkan
permohonan
permintaan data ke Pusat Informasi dan
Pangkalan Data (Pustipanda) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta guna mengetahui jumlah
mahasiswa penyandang disabilitas saat ini. Namun hingga tulisan ini
diterbitkan, pihak Pustipanda belum juga memberikan respons.

Persoalan data ini sebenarnya masih menjadi PR besar,
baik bagi Pustipanda maupun CSSN.
Pada 2018 lalu, Journo
Liberta mendapatkan data dari Pustipanda terkait jumlah mahasiswa disabilitas
dalam kurun waktu 2014 – 2018, tetapi terdapat data yang tidak valid. Ada 13 mahasiswa yang dinyatakan tuna netra oleh Pustipanda, ternyata ditemui dalam keadaan normal.

Pihak CSSN
sendiri menyebut akan melakukan pendataan
sendiri dengan
dekan, tetapi saat ditanya apakah
pendataan tersebut sudah selesai dilakukan, CSSN hanya
mengatakan terdapat dua mahasiswa difabel yang berhasil lulus dalam seleksi
penerimaan mahasiswa baru dari tahun akademik 2019
–2020.


Penulis: Kristina
Damayanti

Editor: Siti
Hasanah Gustiyani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *