|
Dilihat
dari sisi antropologi, Dosen Antropologi Agama dan Budaya, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Kholis Ridho mengungkapkan kepada reporter Journo
Liberta, Jumat (15/1/2022), bahwa boneka arwah adalah bagian dari urban mysticism,
yaitu praktik spiritual yang dilakukan oleh kaum urban yang terjadi di
lingkungan terdekatnya baik di ruang pekerjaan atau perkantoran, hingga rumah. Hal
ini cukup berbeda dengan praktik mistik pada umumnya yang biasa terjadi di
lingkungan yang dikenal angker seperti kuburan, rumah tak berpenghuni, atau
tempat-tempat keramat.
“Secara
antropologis, praktik tersebut dikenal dengan shamanism, yakni memanggil
arwah yang dipindahkan pada benda, hewan atau bahkan manusia yang masih hidup.
Ini merupakan praktik keagamaan zaman awal dimana manusia mengenal atau
berupaya memahami keberadaan Tuhan melalui hewan dan tumbuh-tumbuhan, yaitu
dikenal animisme dan dinamisme,” jelas Dosen Antropologi Agama dan Budaya,
Kholis Ridho melalui pesan teks Whatsapp, Jumat (15/1/2022).
Lebih
lanjut, Kholis menuturkan bahwa boneka arwah ini sebenarnya bukanlah hal yang
baru.
“Praktik
memanggil arwah sudah dikenal sejak zaman primitif, artinya bukan hal baru.
Sebut saja misalnya jenglot, jailangkung atau leak di Bali. Mereka yang
melakukan praktik shamanism biasanya untuk berkomunikasi dengan arwah
leluhurnya, mencari pesugihan, menenangkan hati, hingga menjadi kepercayaan
tentang kehidupan di luar indrawi atau alam ghaib. Kepercayan pada alam ghaib
seringkali menjadi solusi atas kehidupan duniawi yang dihadapinya. Karena itu
motifnya bisa sangat beragam,” ungkapnya lebih lanjut.
Motif
seseorang memiliki boneka arwah yang marak di kalangan selebritas menurut
Kholis juga masih perlu dilakukan penelitian lebih dalam, menurutnya saat ilmu
pengetahuan khususnya kedokteran belum berkembang, umumnya manusia mengandalkan
pengobatan tradisonal melalui media mistik termasuk pemanggilan arwah, dan dilengkapi
dengan obat-obatan tradisional.
“Mengapa
saat ini masih diyakini dan bahkan dipraktikkan kembali? Tentu perlu penelitian
lebih lanjut, karena bisa jadi banyak faktor penyebab seperti kesehatan mental,
kepercayaan pada tradisi leluhur atau bahkan bisa jadi bisnis baru. Karena itu
masing-masing orang dalam praktiknya memiliki penjelasannya sendiri,”
lanjutnya.
Dari
sisi Agama Islam, MUI telah mengeluarkan pernyataan mengenai fenomena boneka
arwah ini. Dilansir dari Detik.com, Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH
Muhammad Cholil menilai bahwa tidak seharusnya memperlakukan boneka layaknya
anak manusia karena boneka adalah benda mati.
“Punya boneka mainan itu boleh, tapi kalau
itu diisi atau dipersepsikan tempat arwah, hukumnya tidak boleh memelihara
makhluk halus. Kalau disembah, musyrik, tapi kalau berteman saja, berarti
berteman dengan jin,” kata Cholil kepada wartawan Detik.com, Senin
(3/1).
Reporter: Anisa Hafifah
Penulis : Kristina Damayanti
|