Presensi Salat Tarawih Pakai QR, Tingkatkan Motivasi Ibadah Anak

LPM Journoliberta
LPM Journoliberta

Journoliberta.com – Program absensi digital menggunakan pemindaian quick response (QR) untuk kegiatan salat tarawih anak yang dikembangkan di Masjid Al-Marjan, Depok, kini mulai diadopsi oleh sejumlah masjid dan musala di berbagai daerah. Musala Darul Fattah, Tangerang Selatan, menjadi salah satu tempat yang menerapkan sistem tersebut.

Dilansir dari CNN Indonesia, absensi digital Ramadan memungkinkan anak-anak memperoleh poin dari kehadiran salat tarawih dan berbagai aktivitas keagamaan. Poin tersebut kemudian dapat ditukar dengan berbagai hadiah sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi mereka mengikuti kegiatan ibadah selama Ramadan.

Penggagas penerapan program di Musala Darul Fattah, Faris, menjelaskan bahwa ide tersebut diadaptasi karena dinilai efektif untuk meningkatkan minat anak-anak datang ke masjid. Ia menyebut, pendekatan berbasis teknologi lebih mudah diterima oleh anak-anak yang sudah terbiasa dengan dunia digital.

“Karakter generasi alfa ini cenderung menyukai hal-hal yang bersifat interaktif, seperti permainan dan aktivitas yang melibatkan teknologi. Sistem poin, reward, dan berbagai mekanisme lain yang mirip seperti permainan menjadi salah satu faktor yang memicu anak-anak untuk lebih termotivasi mengikuti program ini,” ujar Faris saat diwawancarai di Musala Darul Fattah, Jumat (6/3).

Faris mengatakan, program tersebut tidak hanya diterapkan di satu tempat, tetapi mulai diadopsi sejumlah masjid yang tertarik menggunakan pendekatan serupa dalam kegiatan Ramadan. Penerapan sistem ini juga disebut berdampak pada peningkatan jumlah peserta kegiatan di masjid.

“Sekarang sudah ada sekitar 12 masjid yang menerapkan sistem ini. Sebelum program ini berjalan, peserta kegiatan anak sekitar 30 sampai 40 orang. Setelah ada program ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 100 peserta, dan tahun ini sudah lebih dari 200 anak yang ikut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Faris berharap program tersebut tidak hanya menjadi kegiatan musiman selama Ramadan. Menurutnya, pendekatan berbasis teknologi ini dapat menjadi cara baru untuk mengenalkan suasana masjid kepada anak-anak dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka. Ia menilai pengalaman yang menyenangkan di masjid dapat membentuk kebiasaan positif sejak dini.

“Harapannya anak-anak punya pengalaman yang menyenangkan di masjid, sehingga mereka terbiasa datang dan tetap merasa dekat dengan masjid ketika sudah dewasa nanti,” pungkas Faris.

Di sisi lain, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Darul Fattah, Margono mengatakan, pengurus masjid mendukung penerapan program tersebut karena dinilai mampu meningkatkan partisipasi anak dalam kegiatan ibadah. Ia menilai sistem absensi tersebut membuat anak-anak terdorong untuk datang ke masjid secara rutin selama Ramadan.

“Dengan adanya sistem ini anak-anak jadi lebih semangat datang ke masjid. Mereka merasa punya target untuk hadir setiap malam,” ujar Margono saat diwawancarai di Musala Darul Fattah, Rabu (11/3).

Margono juga menyampaikan bahwa program ini berjalan dengan baik karena turut melibatkan peran orang tua. Selain itu, anak-anak juga bersemangat dalam sesi tanya jawab dan diskusi bersama orang tua tentang kegiatan sehari-hari.

“Sejauh ini program ini berjalan dengan baik, karena juga melibatkan orang tua. Anak-anak bersemangat untuk ibadah dan menjawab pertanyaan pertanyaan harian yang biasanya melibatkan orang tua masing-masing,” tambahnya.

Selain itu, program ini juga mendapat respons positif dari para orang tua. Salah satu orang tua peserta, Karmila, menilai sistem berbasis poin membuat anak-anak lebih termotivasi untuk datang ke masjid secara rutin.

“Anak saya jadi lebih rajin ke Musala karena ingin mengumpulkan poin dari kehadiran tarawih,” kata Karmila saat diwawancarai di Musala Darul Fattah, Rabu (11/3).

Bagi salah satu peserta di Musala Darul Fattah, Yasmin, program tersebut membuat suasana kegiatan Ramadan terasa lebih menyenangkan karena dikemas dengan pendekatan yang mirip permainan. Sistem pengumpulan poin dari kehadiran tarawih membuat mereka merasa memiliki tantangan untuk datang ke masjid setiap malam.

“Kalau datang ke masjid bisa dapat poin, jadi rasanya seperti main game,” ujar Yasmin saat diwawancarai di Musala Darul Fattah, Tangerang Selatan, Jumat (6/3).

☕ Traktir Kopi

Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.

❤ Beri Dukungan

Pos terkait