Journoliberta.com – UIN Jakarta memutuskan kegiatan perkuliahan dilakukan secara dalam jaringan (daring) selama bulan Ramadan sejak tanggal 3 Maret hingga 21 Maret 2025. Hal ini disampaikan melalui surat nomor B-126/R/PP.00.9/02/2025 yang ditandatangani langsung oleh Rektor Asep Saepudin Jahari.
Menanggapi hal ini, Pengamat Pendidikan UIN Jakarta, Jejen Musfah, menyatakan keputusan perkuliahan daring berkaitan dengan isu efisiensi yang tengah digaungkan oleh pemerintah. Ia menilai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara daring bisa menghemat biaya operasional kampus.
“Jadi, kita tahu bahwa kalau tidak ada perkuliahan (tatap muka) tentu saja ada penghematan di kampus terkait listrik, kebersihan, dan seterusnya,” ujarnya melalui sambungan telepon, Senin (17/2).
Namun, keputusan perkuliahan daring ini mengecualikan Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Jejen berasumsi hal ini kemungkinan sebab FK dan FIKES lebih dominan dengan pertemuan yang bersifat praktikum.
“Mungkin FK dan FIKES lebih dominan ada praktik-praktik yang tidak mungkin dilaksanakan secara daring, tapi sebenarnya fakultas-fakultas lain juga ada materi dan pertemuan yang sifatnya praktik. Saya kira memang harus diberi kesempatan untuk datang ke kampus,” lanjutnya.
Keputusan yang ditujukan untuk efisiensi ditingkat kampus ini disetujui oleh Dosen Bahasa Arab, Canra Krisna Jaya yang mendukung perkuliahan daring selama Ramadan. Ia menganggap tidak ada yang salah dengan perkuliahan daring
“Saya setuju karena banyak yang bisa diefisiensikan, termasuk mahasiswa gak perlu lagi ke kampus, harus bawa kendaraan atau ongkos. Kan itu biayanya tidak sedikit,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (18/2).
Terkait preferensi kegiatan pembelajaran, Canra mengaku lebih memilih perkuliahan secara tatap muka. Ia menjelaskan bahwa kurangnya partisipasi aktif mahasiswa selama perkuliahan daring menjadi tantangan tersendiri.
“Kalo tantangan dari kita sebagai dosen no problem, kita upayakan sama seperti mengajar di kelas. Malah tantangan yang sering itu dari mahasiswa sendiri. Terkadang ketika kita panggil mahasiswanya gak ada di tempat, ada yang sedang di jalan, ada yang sedang beraktivitas di mana,” terangnya.
Di sisi lain, Dosen Akuntansi, Zuwesty Eka Putri, menyatakan tidak begitu masalah dengan perkuliahan daring untuk efisiensi. Namun, ia meminta pihak kampus agar menyediakan sarana penunjang kegiatan pembelajaran daring untuk para dosen.
“Jika kebijakan perkuliahan online ini untuk efisiensi. Saya rasa hal itu tidak akan masalah jika kami para dosen diberikan akun unlimited juga buat Zoom dan internet,” ujar Zuwesty, Rabu (19/2).
Selain itu, Zuwesty juga menilai kegiatan pembelajaran daring yang efektif hanya berlaku untuk mata kuliah teoritis. Sedangkan untuk pertemuan berupa praktikum lebih efektif bila dilakukan secara tatap muka.
“Menurut saya kuliah daring akan lebih efektif apabila mata kuliah tersebut bersifat teori. Sedangkan kalau materi yang bersifat praktik itu lebih efektif jika dilakukan secara tatap muka ya,” ujarnya kembali.
Sementara itu, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Husna, turut mendukung upaya efisiensi kampus dengan perkuliahan daring selama Ramadan. Sebagai anak kos, ia justru merasa senang bisa menjalankan ibadah puasa bersama keluarganya.
“Gak masalah sih, soalnya kalo online alhasil biaya listrik dari AC (Air Conditioner), lift, dan lainnya jadi lebih berkurang. Terus aku juga sebagai mahasiswa yang nge-kos bisa fokus menjalankan ibadah puasa bersama keluarga,” katanya melalui pesan suara di WhatsApp, Selasa (18/2).
Lebih lanjut, ia juga menyebut sudah terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh, mengingat pernah terjadi saat pandemi Covid-19. Meski begitu, ia berharap perkuliahan daring selama Ramadan ini bisa diselang dengan pertemuan tatap muka sekali atau dua kali dalam seminggu.
“Buat aku yang dulu pernah kuliah daring selama pandemi alhamdulillah sih gak terkendala. Cuma ada kala ngerasa capek juga dan kepalanya pusing karena harus natap layar monitor terus. Aku harap sih satu atau dua kali ada kuliah offline dalam seminggu,” ucapnya kembali.
Tidak sejalan dengan Husna, Mahasiswi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), Luluatul Aidah menyatakan tidak setuju dengan adanya perkuliahan daring untuk efisiensi. Ia menyarankan pihak kampus untuk mempertimbangkan perkuliahan tatap muka sekali atau dua kali dalam seminggu.
“Kita bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) full tapi kita enggak dapet hak untuk kuliah offline sepenuhnya. Kalo misalnya alasannya karena efisiensi, mungkin bisa diselang dengan perkuliahan offline sekali atau dua kali dalam seminggu,” jelas Lulu, Selasa (18/2).
Berdasarkan pada pertimbangan kualitas pembelajaran, Luluatul menilai perkuliahan daring kurang efektif sebab ia harus menghadapi banyak distraksi di rumah. Ia mengaku lebih senang dengan perkuliahan tatap muka karena kegiatan belajar diawasi langsung oleh dosen.
“Kurang optimal karena kalo online itu kita gak sepenuhnya duduk di depan laptop atau handphone mantengin Zoom atau Google Meet gitu. Karena pasti kalo pun ikut join Meet pasti nanti buka-buka sosial media atau chatting-an sama yang lain atau bahkan ditinggalin tidur,” timpalnya.
Menyikapi hal ini, Jejen turut menyoroti tantangan pembelajaran daring yang kerap dihadapi mahasiswa maupun dosen. Ia menyebut hambatan yang sering terjadi di antaranya koneksi internet, konsentrasi belajar, distraksi di sekitar, dan minimnya kontrol langsung dari dosen.
“Paling utama itu kondisi internet yang tidak selamanya stabil, konsentrasi belajar yang tidak lebih baik dibanding kuliah tatap muka, dan minimnya kontrol dosen untuk memastikan bahwa mahasiswa mengikuti perkuliahan,” ujarnya.
Di samping itu, Jejen juga menyebut efektivitas pembelajaran tidak diukur tergantung pada proses daring atau luar jaringan (luring). Namun, ia menilai keberhasilan pembelajaran daring dimulai dari kesadaran mahasiswa akan pentingnya menuntut ilmu.
“Kesuksesan belajar daring memerlukan kesadaran dari para mahasiswa pentingnya akan menuntut ilmu dan pengetahuan untuk masa depan mereka. Ketika mahasiswa belum memiliki kesadaran tersebut, maka belajar daring menjadi kurang efektif,” pungkas Jejen.