Wakil Dekan Bidang Administrasi
Umum Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Sihabudin Noor mengatakan
kegiatan perkuliahan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Karena baik kuliah
dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring) terdapat kelebihan dan
kekurangan masing-masing.
“Dua model luring dan daring
mempunyai kelebihan dan kelemahan. Sebaiknya model perkuliahan dilakukan
situasional sesuai kebutuhan. Alternatif bisa dilakukan blended sesuai
kebutuhan,” jelas Sihabudin via Whatsapp, Senin (14/3/2022).
Sihabudin juga menambahkan,
perkuliahan luar jaringan (luring) ini dapat dilaksanakan jika para mahasiswa
sudah melakukan vaksin kedua.
“Saat ini kita harus berdamai
dengan Covid-19. Perkuliahan luring dilakukan bagi mereka yang minimal sudah
vaksin kedua. Apalagi trend Omicron trend Omicron tidak lebih berbahaya
sebagaimana (varian) Delta. Kuliah luring bisa dilakukan dengan syarat
tersebut, di samping dosen yang bersangkutan tidak punya komorbid,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) Federasi Olahraga Mahasiswa (FORSA), Dimas Muhammad
Saeful Faqih menyatakan, perkuliahan luring akan menjadi problem. Hal ini
karena sebagian mahasiswa masih merasakan dampak pandemi Covid-19, terutama
bagi mahasiswa yang berada di luar pulau.
“Khawatir akan ada kluster baru
meskipun sudah vaksin. Serta masih banyak yang masih di rumah di rumah atau di
luar di luar pulau, tentunya dengan SE Rektor Surat Edaran Rektor yang tak
dikira-kira, akan menjadi problem juga
untuk mahasiswa yang ada di luar pulau, pasti harus memerlukan ongkos, mencari
tempat tinggal lagi. Tentunya dampak pandemi Covid-19 ini masih terasa oleh
sebagian golongan,” ungkap Dimas.
Lebih lanjut, Dimas juga
menyatakan bahwa perkuliahan seharusnya dilakukan sesuai kebutuhan mahasiswa
itu sendiri.
“Kalau masih efektif untuk
dilakukan secara daring, akan aman saja. Tapi jika perkuliahan yang memang
sangat diperlukan untuk luring, lalu dilakukan daring, saya rasa kurang tepat,
maka akan mengakibatkan output atau tujuannya kurang tepat,” ungkapnya
lebih lanjut ungkap Dimas.
Sama halnya dengan Dimas,
Mahasiswa Fakultas Hukum Syariah (FSH), Faisa Ananta juga mengungkapkan bahwa
ia lebih berminat kuliah daring karena banyak yang harus disiapkan untuk kuliah
luring.
“Kalau sekarang saya milih
daring karena pertama masalah kesiapan dari kost, diri saya, sama biaya-biaya
lain masih banyak yang harus disiapin. mungkin nanti kalau semester depan udah
bisa buat luring karena lebih siap dari sekarang,” ungkapnya saat dihubungi
melalui Whatsapp Rabu (9/3/2021).
Dalam perkuliahan luring nantinya
diwajibkan menjaga protokol kesehatan secara ketat. Di antaranya mengenakan
masker, mencuci tangan secara berkala, menjaga jarak, dan memiliki akun Peduli
lindungi. Selain itu, mahasiswa semester akhir juga diizinkan ke kampus untuk
mendapatkan bimbingan dan memanfaatkan perpustakaan atau sumber belajar lainnya
agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu.