Journoliberta.com – Museum Wayang Jakarta mengalami lonjakan kunjungan signifikan setelah pembaharuan fasilitas pada 24 Januari 2025 lalu. Pembaruan fasilitas tersebut meliputi perombakan tata pamer, pembangunan ruang imersif dua lantai, dan peningkatan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Edukator dan Kurator Museum Wayang, Bayu, menjelaskan bahwa renovasi ditujukan untuk meningkatkan daya tarik museum secara menyeluruh. Ia juga menambahkan bahwa pembangunan ruang imersif baru di Museum Wayang sudah dilengkapi dengan layar digital yang menampilkan denah persebaran wayang dan gamelan interaktif.
“Pembaruan wajah ada di tata pamer museum wayang, itu semua kita ubah. Terus juga ada penambahan ruang, dalam artian ruang interaktif atau ruang imersifnya,” ujar Bayu saat diwawancarai di Museum Wayang, Selasa (28/1).
Penjaga Perpustakaan dan Social Media Specialist Museum Wayang, Dwi, menambahkan bahwa saat ini sudah terdapat peningkatan aksesibilitas untuk pengunjung disabilitas dan lansia di Museum Wayang.
“Museum ini museum inklusi, artinya ramah pengunjung dan terbuka bagi semua kalangan. Oleh karena itu, di dekat taman dan beberapa tempat kita buatkan tram untuk penyandang disabilitas dan lansia, kami juga menyediakan kursi rodanya juga,” ucap Dwi, Selasa (28/1).
Peresmian wajah baru Museum Wayang yang bertepatan dengan long weekend menyebabkan jumlah pengunjung mencapai rekor tertinggi daripada tiga tahun sebelumnya. Di mana ruang imersif dengan kuota 30 orang per sesi sudah penuh sejak pukul 10.00 WIB.
“Kita sebenarnya masih masa percobaan. Nah, mungkin nanti ada kebijakan baru dari atasan kami, mungkin nanti saling evaluasi. Apakah nanti per sesi satu jam atau mungkin dikurangi gitu, supaya tidak membludak antriannya,” ujar Dwi.
Salah satu pengunjung Museum Wayang, Emil, menyampaikan bahwa adanya pencahayaan yang kini lebih terang serta dilengkapi dengan teknologi interaktif membuat Museum Wayang menjadi lebih ramah dan menarik untuk pengunjung. Namun, ia juga berharap akan adanya penyediaan tempat duduk di beberapa titik museum guna meningkatkan kenyamanan.
“Dengan adanya elemen digital dan tampilan yang lebih menarik, anak-anak muda jadi lebih tertarik buat mengenal wayang. Saya juga melihat beberapa kontennya dikemas dalam bentuk animasi dan media sosialnya aktif mempromosikan budaya wayang. Jadi lebih relate sama anak muda zaman sekarang,” kata Emil saat diwawancarai, Selasa (28/1).