Journoliberta.com – Dinas Kebudayaan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta bersama Kampung Sinema menggelar Festival Jakarta Culture Cinema (JCC) di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (19/9). Program ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Jakarta Culture Cinema Fund, Bioskop JCC, Jakarta Culture Cinema Fest.
Ketua Pelaksana JCC, Ade Maulana menjelaskan Bioskop JCC merupakan salah satu rangkaian kegiatan Jakarta Culture Cinema atau Lomba Kampung Sinema yang mencakup pendanaan dan pendampingan produksi film, festival kompetisi film pendek serta pemutaran film melalui bioskop keliling. Ia menyebut konsep festival ini berbeda dengan yang lain karena dilakukan langsung di tengah permukiman. Kota Tua dipilih karena merupakan salah satu landmark Jakarta sekaligus titik pertemuan masyarakat dari berbagai daerah.
“Program pertama itu JCCFund, pendanaan dan pendampingan produksi film kepada 10 tim terpilih. Terus ada JCCFest, itu festival kompetisi film pendek yang diikuti oleh 79 negara. Nah, hasil dari kurasi itu screening-nya lewat Bioskop JCC, dan bioskop keliling ini konsepnya memang tidak seperti festival-festival lain. Ngeliat Kota Tua itu kan salah satu landmark dari Jakarta dan ini titik temunya banyak orang-orang daerah,” jelas Ade saat diwawancarai secara langsung di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (19/9).
Lebih lanjut, Ade menyoroti film yang ditayangkan berasal dari karya peserta program kompetisi JCC yang telah melalui proses kurasi sebelum ditampilkan kepada masyarakat. Ia menegaskan karya yang ditampilkan memuat unsur objek pemajuan kebudayaan dengan menonjolkan nilai budaya melalui cerita.
“Jadi dari funding itu kan ada 10 film, nah dari festival ada 815 film. Nah, kita kurasi menjadi 43 film yang akan diputar. Jangan mengupas tentang budayanya seolah-olah itu menjadi film tutorial budaya. Tapi mengupas value dari budaya itu. Biar mereka merasakan, ondel-ondel itu bukan hanya sekadar bangker, bukan sekadar barongan gede, tapi ada value di situ. Alhamdulillah untuk respons masyarakat. Waktu opening itu kan kita di tengah-tengah masyarakat, sudah ada sekitar 17 RW yang minta dibuka bioskop keliling,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Aulia mengatakan dirinya datang untuk menonton karena memiliki ketertarikan terhadap berbagai kegiatan perfilman di Jakarta. Ia menilai konsep pemutaran di ruang terbuka membuat kegiatan lebih menarik karena tidak hanya dihadiri oleh sinefil tetapi juga masyarakat umum dengan latar belakang yang beragam.
“Aku emang suka nonton film, terus ngikutin event-event yang di Jakarta, terutama tentang film. Ternyata ada JCC, kebetulan bisa yang di sini. Makanya aku ikutan ke sini. Seru banget, apalagi ini bukan acara tertutup. Dan ini banyak orang-orang yang biasa juga di sini. Bukan cuma yang sinefil-sinefil aja,” ucap Aulia saat diwawancarai secara langsung di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (19/9).
Selain itu, Aulia menyoroti keberagaman budaya Jakarta tidak hanya dihuni masyarakat Betawi, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap program tersebut dapat kembali diselenggarakan pada tahun berikutnya dengan skala yang lebih besar.
“Ternyata Jakarta itu emang budayanya banyak banget dan orang-orang di Jakarta itu kan bukan cuma orang asli Jakarta aja. Programnya semoga tahun depan ada lagi nggak sampai di tahun ini aja. Mungkin diadakan di tahun-tahun berikutnya lagi dan lebih besar lagi lah, semoga ya,” pungkasnya.
Penulis: Dwi Halimatus Sa’diah Putri
Editor: Muhammad Iqbal




