Journoliberta.com – Bulan Sya’ban merupakan bulan yang penuh dengan keutamaan di jelang Ramadan dan tentu dilewati oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia.
Seperti yang diketahui, pada bulan Sya’ban, catatan amal manusia selama satu tahun akan menjadi pertimbangan Yang Maha Kuasa. Salah satu kebaikan yang dapat diraih di bulan Sya’ban adalah pengampunan dari Allah SWT.
Sya’ban adalah bulan ke-8 dalam penanggalan Hijriyah. Bulan ini adalah bulan yang berada di antara dua bulan mulia yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Mahasiswa jakarta/" class="auto-tag-link">UIN Jakarta, Nabilah, mengisi kegiatan keagamaan selama bulan Sya’ban dengan puasa sunah dan solawat.
“Mungkin kalau kegiatan keagamaan bisa puasa sunnah, sama memperbanyak doa dan solawat ya. salah satunya saya mengutip dari Abu Bakar Al Balkhi di mana beliau mengatakan bahwa bulan Rajab menanam, bulan Syaban mengairi, dan bulan Ramadhan adalah waktu untuk kita panen atas usaha yang sudah dilakukan di bulan rajab, dan syaban,” ungkap Nabilah.
Tak hanya itu, di bulan Sya’ban terdapat suatu tradisi yang dinamakan Nisfu Sya’ban yang juga memiliki beberapa keutamaan. Malam Nisfu Sya’ban yang diyakini sebagai waktu yang ditetapkan untuk mencatat amal kebaikan manusia.
Menanggapi hal ini, Dosen Progam Studi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Jakarta, Asep Usman Ismail menjelaskan bahwa setiap bulan dalam Islam tidak memiliki kelebihan dan kekurangan, yang membedakan hanya iman kepada Allah SWT.
“Setiap bulan itu tidak ada kelebihan apapun prinsipnya, karena bulan itu diciptakan Allah menyangkut dua hal mendasar yaitu ruang dan waktu, manusia yang menempati ruang dan waktu tersebut. Satu-satunya keistimewaaan itu adalah ketika orang melakukan lima hal, Pertama yang akan istimewa itu yang beriman, yang kedua setelah dia beriman kemudian beramal amal sholeh, lalu yang ketiga yang berusaha mengembangkan dirinya jadi pribadi yang bersih, yang keempat jadi pribadi yang dekat dengan Allah, dan yang kelima jadi pribadi yang punya tanggung jawab terhadap kehidupan sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika pun ada keistimewaan, umat Islam hanya bisa berdoa supaya perbuatan selama satu tahun bisa diampuni.
“Jadi saya tidak melihat ada sesuatu yang istimewa ya, kalau toh ada kita berdoa saja mudah-mudahan berawal dari rajab lalu bisa meningkatkan, mengevaluasi, serta memastikan perbuatan kita dalam satu tahun diampuni pada saat memasuki Ramadhan,” ungkapnya.
Sejarah Peringatan Malam Nisfu Syaban
Dilansir dari laman NU, Senin (6/2/2023) Al-Imam Al-Qasthalani menjelaskan awal mula adanya peringatan malam Nisfu Sya’ban dalam kitabnya Al-Mawahib Al-Laduniyah sebagai berikut:
وقد كان التابعون من أهل الشام، كخالد بن معدان، ومكحول يجتهدون ليلة النصف من شعبان فى العبادة، وعنهم أخذ الناس تعظيمها، ويقال: إنه بلغهم فى ذلك آثار إسرائيلية، فلما اشتهر ذلك عنهم اختلف الناس، فمنهم من قبله منهم، وقد أنكر ذلك أكثر العلماء من أهل الحجاز، منهم عطاء، وابن أبى مليكة، ونقله عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن فقهاء أهل المدينة، وهو قول أصحاب مالك وغيرهم، وقالوا: ذلك كله بدعة
Artinya: “Tabi’in tanah Syam seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul, mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam Nisfu Sya’ban. Nah dari mereka inilah orang-orang kemudian ikut mengagungkan malam Nisfu Sya’ban. Dikatakan, bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat (kabar atau cerita yang bersumber dari ahli kitab, Yahudi dan Nasrani yang telah masuk Islam) tentang hal tersebut.
Ketika perayaan malam Nisfu Syaban terkenal, masyarakat berbeda pandangan menanggapinya. Sebagian menerima, dan sebagian lain mengingkarinya. Mereka yang mengingkari adalah mayoritas ulama Hijaz, termasuk dari mereka Atha’ dan Ibnu Abi Malikah.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari kalangan fuqaha’ Madinah menukil pendapat bahwa perayaan malam Nisfu Sya’ban seluruhnya adalah bid’ah. Ini juga merupakan pendapat Ashab Maliki dan ulama selainnya. Peringatan malam Nisfu Sya’ban yang kini diamalkan itu dasarnya adalah mengikuti perbuatan segolongan ulama Tabi’in negeri Syam atau kini dikenal dengan negara Suriah. Wallahu alam.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas.
❤ Beri Dukungan





