Journoliberta.com – Kasus pencurian di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menjadi perhatian sivitas akademika. Laporan kehilangan barang masih ditemukan di berbagai lokasi kampus, seperti Student Center (SC), area parkir dan gedung fakultas. Kondisi ini menyoroti sistem keamanan kampus serta kewaspadaan mahasiswa dalam menjaga barang pribadi.
Petugas Keamanan UIN Jakarta, Zul, mengatakan laporan kehilangan lebih sering terjadi di kawasan SC. Ia menjelaskan Closed Circuit Television (CCTV) berperan membantu proses penanganan kasus sebagai barang bukti. Namun, keberadaan CCTV belum mampu mencegah pencurian apabila mahasiswa masih kurang waspada menjaga barang pribadinya.
“Kalau di SC sering, karena di sana beragam. Kalau CCTV itu penting untuk barang bukti, tapi kalau untuk penjagaan kembali lagi ke diri kita. Misalnya saat salat jangan meletakkan barang di belakang, lebih baik di depan supaya lebih aman,” ujar Zul saat diwawancarai di Pos Keamanan UIN Jakarta, Kamis (9/7).
Lebih lanjut, Zul menilai kurangnya kewaspadaan mahasiswa menjadi penyebab utama kehilangan barang di lingkungan kampus. Kunci motor, ponsel, dan helm menjadi barang yang paling sering dilaporkan hilang. Setiap barang temuan maupun laporan kehilangan akan diamankan di pos keamanan dan dapat diambil kembali sesuai prosedur yang berlaku.
“Kadang kalau pagi mahasiswa sering terburu-buru, kemudian pada siang hingga sore hari sudah banyak kegiatan, jadi konsentrasinya berkurang. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan mahasiswa berkurang. Apabila ada barang temuan atau laporan kehilangan, kami tampung di pos keamanan, lalu proseduralnya nanti kami tanya semester berapa, fakultas apa, sama bukti kepemilikan barang,” tambah Zul.
Menurut Zul, area parkir menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keamanan. karena luasnya area yang harus diawasi. Ia juga mengimbau mahasiswa untuk lebih waspada terhadap barang pribadi dan saling mengingatkan mengenai titik-titik rawan kehilangan. Menurutnya, menjaga keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga membutuhkan partisipasi seluruh sivitas akademika.
“Tantangan terbesar sepertinya parkir. Pengelola parkir perlu meningkatkan pengawasan, misalnya memastikan kendaraan terkunci dengan baik atau memeriksa kalau ada ponsel yang tertinggal di dasbor agar mahasiswa bisa merasa aman dan nyaman saat beraktivitas. Yang paling penting itu lebih aware lagi, karena kami di sini penunjang, tapi kesadaran diri tetap jadi yang utama,” tegas Zul.
Sementara itu, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Maura, mengaku telah dua kali kehilangan helm di area basement kampus. Ia tidak melaporkan kejadian tersebut karena menilai tidak terdapat CCTV yang mengarah ke area parkir basement sehingga merasa laporannya tidak akan membuahkan hasil.
“Saya sudah dua kali di area basement. Helm saya letakkan di atas spion, terus lanjut kuliah. Pas mau pulang, ternyata helmnya sudah hilang. Saya sempat mau cek CCTV dan tanya satpam, tapi menurut saya di basement tidak ada CCTV yang mengarah. Jadi saya ngerasa kalau lapor pun percuma,” ucap Maura saat diwawancarai via pesan suara WhatsApp, Rabu (8/7).
Maura berharap pihak kampus meningkatkan sistem keamanan di lingkungan UIN Jakarta. Menurutnya, penambahan CCTV, peningkatan penerangan di area basement, serta penyediaan fasilitas penitipan helm dapat menjadi langkah untuk meminimalkan kasus kehilangan barang.
“Menurut saya, keamanan di UIN perlu diperketat, terutama dengan penambahan CCTV di area basement. Di lantai dua juga penerangannya minim, sehingga menimbulkan rasa waswas saat pulang setelah mengikuti organisasi atau kegiatan malam. Kalau bisa, disediakan juga penitipan helm supaya barang mahasiswa lebih aman,” pungkas Maura.
Suka dengan artikel kreator ini? Berikan apresiasi Anda agar kami terus semangat menyajikan artikel/berita berkualitas. ❤ Beri Dukungan





